Ada pemandangan ganjil yang belakangan ini sering saya jumpai kalau sedang iseng berselancar di Instagram. Saya klik profil seorang kawan: bukan selebgram, bukan pejabat, cuma manusia biasa yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan swasta atau jualan daster online. Di sana, di bawah foto profilnya yang estetik, tertulis angka yang bikin dahi mengernyit: Posts: 0.
Nol. Kosong melompong seperti ruko telantar di pinggir jalan ring road. Padahal, pengikutnya ada ribuan, dan dia sudah punya akun sejak zaman kuliah belasan tahun lalu.
Ke mana perginya foto-foto soto ayam yang kuahnya kuning menggoda itu? Ke mana foto pamer tiket konser yang belinya pakai drama war sampai komputer hang? Ke mana perginya caption-caption bijak religius yang biasanya muncul setiap hari Jumat subuh?
Fenomena ini ternyata punya nama keren di dunia barat sana: Zero Posting. Sebuah kondisi di mana orang-orang biasa—kita-kita ini yang bukan influencer, bukan kreator konten, dan tidak punya kewajiban moral untuk menghibur umat manusia—secara berjamaah memutuskan untuk mogok siaran. Kita memilih untuk menggembok rapat-rapat pintu kehidupan pribadi kita dari tatapan publik luas. Kita mendadak jadi pertapa digital.
Dulu, media sosial itu seperti teras rumah di kampung. Kita bisa duduk santai sarungan, menyapa tetangga yang lewat, curhat soal jemuran yang belum kering, atau sekadar memamerkan kucing piaraan yang baru melahirkan. Sekarang? Teras rumah itu sudah digusur dan berubah menjadi panggung konser dangdut sekaligus pasar malam yang bisingnya minta ampun. Dan celakanya, kita dipaksa untuk terus menonton, atau lebih buruk lagi: dipaksa ikut menari di atasnya.
Isinya Sudah Berubah Jadi Panggung Sandiwara yang Bising
Mari kita jujur pada diri sendiri: media sosial kita hari ini sudah tidak asyik lagi. Ruang yang dulunya intim, hidup, dan penuh dengan cerita-cerita kecil bin remeh dari masyarakat biasa, kini telah bergeser fungsi secara radikal. Linimasa kita telah berubah menjadi etalase komersial yang maha bising.
Buka aplikasi sedikit, kita langsung ditampar oleh algoritma AI yang sok tahu, yang mendadak menawarkan produk pembersih komedo padahal kita cuma habis mengetik kata “wajah” di kolom pencarian. Geser ke bawah sedikit, kita disuguhi video orang pamer mobil mewah sewaan lengkap dengan kata-kata motivasi sukses berbau toxic positivity. Geser lagi, kita diseret masuk ke dalam arena perdebatan politik yang urat lehernya mau putus, hanya karena urusan pilihan rasa kecap nomor satu atau nomor dua.
Segala hal di media sosial hari ini dituntut untuk menjadi tontonan. Semuanya harus dikurasi, harus estetik, harus punya nilai jual, dan kalau bisa: harus viral.
Bagi orang biasa yang hidupnya cuma begini-begini saja, yang prestasinya tahun ini cuma berhasil melunasi paylater tepat waktu, berada di tengah ekosistem yang serba kompetitif ini tentu saja melelahkan. Mau mengunggah foto jalan-jalan sore di taman kota, kok rasanya minder karena di sebelah kita ada orang yang mengunggah foto liburan ke Swiss pakai jaket tebal. Mau curhat soal susahnya mencari parkir di mal, takut dirujak netizen karena dianggap kurang bersyukur. Akhirnya, kita memilih opsi paling rasional: tarik napas, simpan kembali HP ke kantong, dan jangan mengunggah apa pun.
Sudah Merasa Posting yang Tidak Bermanfaat
Tahun lalu, seorang jurnalis bernama Kyle Chayka memperkenalkan sebuah istilah yang menurut saya sangat puitis sekaligus menampar wajah kita semua: Posting Ennui. Jangan khawatir dengan pelafalannya yang agak kebarat-baratan itu, anggap saja artinya adalah rasa bosan, lelah yang teramat sangat, dan hilangnya makna dalam membagikan kehidupan sehari-hari ke hadapan publik.
Posting Ennui adalah momen ketika Anda sudah memegang HP, sudah membuka kamera, sudah membidik foto cangkir kopi yang estetik dengan latar belakang laptop yang menyala, tapi tiba-tiba jempol Anda lumpuh. Ada suara bisikan di dalam kepala yang bertanya dengan nada sinis: “Lu mamerin kopi ini buat apa sih? Biar dianggap sibuk? Biar dianggap keren? Emang ada yang peduli?”
Dan seketika itu juga, hasrat pamer Anda menguap seperti bensin disiram ke aspal panas. Anda merasa bahwa membagikan momen itu ke dunia luar adalah sebuah kesia-siaan yang hakiki.
Rasa bosan ini muncul karena kita sadar bahwa linimasa tidak lagi menjadi tempat bertukar kabar yang tulus, melainkan ladang transaksi ego. Kita lelah mengharapkan validasi berupa simbol hati berwarna merah atau angka penonton yang naik-turun. Kita lelah berpura-pura bahagia di depan kamera demi memuaskan rasa ingin tahu orang-orang yang bahkan kalau ketemu di jalan pun belum tentu menyapa kita. Posting Ennui adalah sinyal dari otak kita bahwa kewarasan kita sedang mencoba menyelamatkan dirinya sendiri.
Milenial Sudah Menua dan Gen Z Sudah Mulai Bosan
Kalau kita bedah berdasarkan generasi, mogok siaran ini punya latar belakang psikologis yang sangat menarik. Mari kita lihat generasi milenial dulu—generasi yang sekarang rata-rata kepalanya sudah tiga atau empat, yang rambutnya mulai disusupi satu-dua helai uban, dan yang kalau tidur salah bantal sedikit lehernya langsung kaku seharian.
Milenial ini adalah generasi yang membidani lahirnya budaya pamer digital. Merekalah yang dulu meramaikan Facebook dengan status-status galau alay, yang memenuhi Instagram dengan foto makanan berfilter Amaro atau Valencia. Tapi sekarang, milenial sudah memasuki usia matang. Mereka mulai sadar bahwa privasi adalah kemewahan tertinggi dalam hidup. Mereka tidak lagi butuh pengakuan dari dunia luar bahwa mereka bahagia; mereka cuma butuh sisa tagihan KPR cepat lunas dan anak-anak tidak rewel saat jam sekolah.
Lalu bagaimana dengan Gen Z, generasi yang katanya lahir dengan gawai di tangan? Nah, ini yang unik. Gen Z ternyata mengalami kelelahan akut yang berbeda. Mereka tumbuh di era di mana privasi sudah menjadi barang langka sejak mereka lahir. Akibatnya, mereka merasa enggan untuk terus-menerus “terlihat” di panggung terbuka.
Gen Z lelah dengan kebisingan dan paparan publik yang bisa menjadi bumerang kapan saja lewat budaya cancel culture. Mereka tidak mau jejak digital mereka di masa muda dipantau oleh calon HRD perusahaan di masa depan, atau dijadikan bahan gunjingan oleh sepupu-sepupu mereka yang usil. Akhirnya, Gen Z memilih untuk menjadi penonton layar lebar saja di media sosial. Mereka duduk di kursi bioskop digital yang gelap, menonton para pembuat konten bertingkah konyol di panggung, sambil mengunyah berondong jagung dalam kesunyian.
Banyak yang Pindah Ke Platform Lain
Lantas, apakah dengan fenomena Zero Posting ini berarti manusia modern sudah berhenti berkomunikasi? Oh, tentu tidak. Manusia itu makhluk sosial yang genit; kita tetap butuh nggosip, tetap butuh pamer, dan tetap butuh menertawakan kebodohan hidup. Bedanya, tempat nongkrongnya saja yang pindah rumah.
Percakapan personal yang dulunya dipajang di ruang tamu (linimasa), kini berpindah secara masif ke ruang-ruang belakang yang tertutup, terbatas, dan hanya bisa dimasuki oleh orang-orang pilihan. Kita mengalami eksodus massal ke grup WhatsApp keluarga (yang isinya gambar ucapan selamat pagi dengan latar belakang bunga mawar), grup Telegram komunitas, server Discord yang misterius, atau fitur Close Friends di Instagram.
Di ruang-ruang privat inilah manusia modern kembali menemukan kemerdekaannya. Di dalam grup WhatsApp berisi lima orang sahabat karib, kita bisa mengirimkan foto wajah kita yang bengkak karena bangun kesiangan tanpa perlu takut kehilangan wibawa. Di fitur Close Friends, kita bisa mengeluhkan kelakuan bos di kantor yang menyebalkan tanpa perlu khawatir besok pagi dipanggil ke ruangan HRD.
Kita merindukan keintiman yang jujur. Kita merindukan sebuah ruang di mana kita bisa menjadi manusia yang cacat, yang gagal, yang konyol, tanpa perlu dinilai oleh sistem peringkat berupa algoritma atau jumlah likes. Kita kembali ke hakikat awal komunikasi: berbicara dengan orang yang benar-benar kita kenal, bukan berpidato di depan kerumunan orang asing yang siap menghakimi.
Walau Postingannya Kosong, Tapi Tetap Aktif Berselancar di Medsos
Di Indonesia sendiri, tren ini mewujud dalam bentuk perilaku digital yang sangat unik sekaligus cerdik. Banyak anak muda kita yang membiarkan feed Instagram mereka kosong melompong, atau kalaupun ada isinya, jumlah fotonya bisa dihitung pakai jari satu tangan. Biasanya cuma tersisa tiga foto: satu foto wisuda (sebagai bukti ke orang tua kalau uang semesteran tidak dipakai buat main slot), satu foto estetik saat liburan yang mukanya membelakangi kamera, dan satu foto hitam polos tanpa keterangan.
Tapi jangan salah, meskipun feed-nya mirip kuburan sepi di malam jumat, aktivitas mereka sebenarnya tetap membara. Mereka memindahkan seluruh denyut nadinya ke fitur Instagram Stories. Kenapa? Karena Stories punya sifat yang sangat manusiawi: dia akan mati dan hilang dalam waktu 24 jam.
Bagi anak muda Indonesia, Stories adalah penyelamat. Mereka bisa membagikan momen sarapan bubur ayam yang diaduk (sebuah penistaan kuliner bagi sebagian orang) tanpa perlu khawatir jejak digital itu akan bertahan sampai mereka punya cucu kelak. Setelah 24 jam, dosa digital itu terhapus dengan sendirinya oleh sistem.
Selain itu, ada juga tren penggunaan finsta alias fake instagram atau akun kedua. Akun utama yang isinya kosong dan estetik dipakai sebagai fasad atau ruang tamu formal untuk berjaga-jaga kalau dipantau oleh dosen, paman, bibi, atau calon mertua. Sementara akun kedua, yang pengikutnya cuma berisi 15 orang manusia pilihan, digunakan sebagai tempat pembuangan sampah emosi yang sesungguhnya. Di sanalah mereka mengunggah video nangis sesenggukan karena patah hati, foto jempol kaki yang cantengan, atau meme-meme gelap yang tidak lulus sensor moral masyarakat umum.
Pada akhirnya, Zero Posting bukanlah tanda bahwa kita anti-sosial. Ini adalah bentuk perlawanan kultural yang elegan dari manusia biasa melawan tirani algoritma yang melelahkan. Kita hanya sedang merebut kembali hak kita untuk menjadi manusia yang tidak harus selalu tampil menarik setiap hari. Karena hidup ini sudah cukup menguras tenaga untuk dijalani, tidak perlulah ditambah dengan kewajiban untuk mendokumentasikannya demi kesenangan orang lain. Mari kita nikmati kopi kita dalam diam, selagi hangat, tanpa perlu meminta izin dunia untuk menikmatinya.
