Beberapa waktu lalu, saya sempat melamun agak lama di depan layar laptop setelah menonton sebuah dokumenter rilisan DW yang judulnya langsung bikin mak nyes di dada: “Kesepian melanda anak muda – Mencari jalan keluar dari kesendirian”. Sebagai orang yang tumbuh di era ketika konsep “nongkrong” berarti duduk melingkar di atas tikar wedangan sambil rebutan gorengan dingin, dokumenter ini rasanya seperti hantaman godam yang membongkar isi kepala saya tentang potret anak muda zaman sekarang.
Zaman berganti, gusti. Dulu, musuh utama anak muda adalah bokek alias tidak punya uang saku. Sekarang? Musuh paling mengerikan ternyata adalah sepi yang menyelinap di balik gemerlapnya notifikasi gawai. Kita sedang menyaksikan sebuah generasi yang secara fisik paling terkoneksi sepanjang sejarah peradaban manusia, namun secara mental justru menjadi generasi yang paling terisolasi dan merasa sendirian. Kok bisa, ya?
Ilusi Silaturahmi Layar Kaca
Mari kita bedah pelan-pelan, sambil menyulut rokok atau menyeruput teh hangat—bagi yang tidak merokok, silakan ambil camilan apa saja yang ada di meja.
Dokumenter itu menyoroti satu terdakwa utama yang rasanya sudah sering kita sidang di pengadilan moral harian kita: media sosial. Kita semua, sadar atau tidak, telah terjebak dalam apa yang saya sebut sebagai “kedekatan semu”. Ponsel pintar di genggaman kita itu ajaib betul. Dia bisa menghubungkan kita dengan sepupu yang tinggal di Jerman, atau mantan pacar yang sudah beranak tiga di seberang pulau, hanya dalam hitungan milidetik. Tapi di sinilah letak ironi paling bangsat dari abad 21: alih-alih membuat kita merasa dekat dan disayang, tumpukan aplikasi itu justru memperparah rasa terisolasi.
Mengapa? Karena interaksi kita telah direduksi menjadi sekadar ketukan jempol, tanda suka, dan emoji tertawa guling-guling yang sering kali dikirim oleh orang yang wajah aslinya di dunia nyata sedang merengut atau bengong tanpa gairah. Kita merasa punya seribu teman di jagat maya, tapi begitu malam tiba dan lampu kamar dimatikan, kita kebingungan mencari satu saja nomor telepon yang bisa dihubungi saat kita butuh menangis tanpa perlu berpura-pura tegar.
Lalu muncullah hantu baru bernama FOMO (Fear of Missing Out). Ini istilah keren bahasa Inggris untuk menggambarkan rasa wedi alias ketakutan yang konstan kalau-kalau kita tertinggal dari kereta aktivitas teman-teman kita. Di era layar sentuh ini, kecemasan itu berubah menjadi kerja paksa yang sukarela. Kita merasa dikejar-kejar kewajiban tak tertulis untuk selalu aktif membalas pesan dalam hitungan detik. Mengapa? Karena kalau kita lambat merespons grup WhatsApp atau telat berkomentar di unggahan terbaru geng kita, muncul ketakutan bawah sadar bahwa kita akan dikucilkan secara pelan-pelan dari lingkungan sosial. Hidup kok seperti dikejar debt collector, padahal yang ditagih cuma eksistensi digital.
Celakanya lagi, apa yang kita lihat di layar itu adalah dunia yang sudah dikurasi dengan sangat kejam. Media sosial adalah panggung sandiwara tempat semua orang hanya memamerkan potongan-potongan terbaik dari hidup mereka. Foto liburan yang estetis, kopi susu mahal dengan latar belakang laptop yang menampilkan grafik kerjaan yang tampak sibuk, atau wajah glowing tanpa cela berkat bantuan filter kamera.
Ketika kita yang sedang rebahan di kamar dengan kaos oblong bolong di bagian ketiak melihat kilauan artifisial itu, otak kita langsung melepaskan dopamin sementara yang memicu rasa kagum, yang sayangnya, segera disusul oleh hantaman kehampaan yang jauh lebih besar. Kita membandingkan “dunia dalam” kita yang berantakan dengan “dunia luar” orang lain yang sudah diedit sedemikian rupa. Akhirnya, kita merasa menjadi manusia paling gagal dan paling kesepian di dunia, padahal boleh jadi, orang yang kita kagumi fotonya itu juga sedang menangis di pojokan kasurnya karena utang pinjolnya menumpuk.
Beban Berat Menjadi “Lelaki Perkasa”
Poin kedua dari dokumenter DW itu yang membuat saya berdeham agak keras adalah soal bagaimana kesepian ini memukul anak-anak muda laki-laki. Di masyarakat kita—dan ternyata di belahan dunia Barat pun sama saja—ada beban sejarah yang ditaruh di pundak laki-laki bernama stigma maskulinitas.
Sejak kecil, anak laki-laki dididik dengan doktrin yang keras: “Laki-laki itu gak boleh nangis!”, “Laki-laki itu harus kuat!”, “Jangan cengeng!”. Akibat dari konstruksi sosial yang kaku ini, anak muda laki-laki zaman sekarang menghadapi tembok raksasa ketika mereka ingin curhat atau menunjukkan sisi rentan mereka. Menunjukkan bahwa diri kita sedang tidak baik-baik saja, sedang rapuh, atau sedang butuh pelukan hangat, sering kali dianggap sebagai tanda kelemahan yang memalukan bagi seorang pria.
Kondisi sosial kita memang agak aneh dan kaku dalam hal ini. Coba bayangkan, kalau ada dua orang perempuan dewasa duduk di kafe, lalu salah satunya menangis tersedu-sedu sambil memegang tangan temannya, masyarakat akan melihatnya sebagai bentuk solidaritas emosional yang indah. Tapi coba kalau skenarionya diganti menjadi dua orang laki-laki berkumis tipis duduk di warung kopi, lalu salah satunya menangis sesenggukan dan memegang erat pundak temannya. Apa yang terjadi? Orang-orang di sekitar pasti akan menoleh dengan pandangan curiga, risih, atau bahkan menganggapnya “aneh” dan menyimpang.
Stigma komunal inilah yang membuat banyak laki-laki memilih untuk mengunci rapat-rapat pintu emosi mereka. Dan ketika rasa sepi dan depresi itu sudah tidak tertahankan lagi, ke mana mereka pergi? Alih-alih pergi ke psikolog atau menemui sahabat untuk memproses emosi dengan benar, mereka lari ke mekanisasi eskapisme yang destruktif dan instan. Mereka menyalutnya dalam kepulan asap rokok yang dalam, menenggak alkohol sampai mabuk, atau menatap layar gim daring sampai subuh. Itu semua adalah jalan pintas untuk membius rasa sakit, sebuah usaha menyedihkan untuk melupakan kesepian tanpa pernah benar-benar menyembuhkannya.
Tubuh yang Dihukum dan Paradoks Popularitas
Hubungan antara kesepian dengan kesehatan mental dan fisik ini sebetulnya melingkar seperti lingkaran setan yang tidak ketahuan di mana ujung pangkalnya. Dokumenter DW menceritakan dengan sangat gamblang bagaimana kesepian kronis sering kali berakar dari, atau bahkan memperparah, gangguan makan (eating disorder) seperti anoreksia, yang jika dirunut lebih dalam lagi, jalurnya kerap kali bermuara pada trauma masa kecil yang belum selesai.
Ketika seseorang merasa kesepian dan tidak memiliki kendali atas kehidupan sosialnya, mereka mulai mencari sesuatu yang bisa mereka kendalikan secara mutlak. Celakanya, objek kendali itu sering kali adalah tubuh mereka sendiri. Ditambah lagi dengan distorsi citra diri (body image) yang dijejalkan oleh standar kecantikan dan ketampanan industri digital saat ini.
Rasa tidak aman alias insecurity terhadap penampilan fisik ini bisa berkembang menjadi monster yang sangat ekstrem. Anak-anak muda mulai membatasi interaksi sosial mereka bukan karena mereka tidak butuh teman, melainkan karena mereka didera ketakutan yang luar biasa kalau-kalau mereka akan dihakimi, dihina, atau ditatap dengan pandangan aneh oleh publik begitu keluar rumah. Mereka menghukum diri mereka sendiri di dalam kamar, mengunci diri dari dunia, hanya karena merasa tubuh mereka tidak memenuhi standar keindahan yang ada di layar gawai.
Dan di sinilah paradoks terbesar kehidupan modern menemukan bentuknya yang paling paripurna. Sering kali kita menyangka bahwa kesepian hanya milik mereka yang kuper, yang tidak punya teman, atau yang penampilannya biasa-biasa saja. Salah besar! Dokumenter itu membuktikan bahwa orang yang terlihat sukses di luar, berwajah menawan, atau memiliki puluhan ribu pengikut di Instagram tetap bisa mengalami kesepian yang hebat.
Popularitas digital itu seperti meminum air laut; makin diminum, makin bikin haus. Punya banyak pengikut tidak sama dengan punya sahabat. Kesuksesan lahiriah sama sekali bukan jaminan bagi kesehatan mental yang stabil. Menjadi pusat perhatian di dunia maya sering kali justru membuat seseorang merasa semakin kesepian, karena mereka tahu bahwa orang-orang menyukai “citra” mereka, bukan “diri” mereka yang sesungguhnya dengan segala cacat dan celanya.
Jalan Pulang Menuju Diri Sendiri
Lalu, setelah melihat bentang masalah yang begitu horor ini, apa yang bisa kita lakukan? Apakah kita harus membuang semua ponsel kita ke sungai dan pergi hidup di dalam hutan menjadi petapa? Tentu tidak begitu mainnya. Dokumenter DW memberikan beberapa petunjuk jalan keluar yang rasanya sangat masuk akal, walau eksekusinya memang butuh nyali yang tidak sedikit.
Langkah pertama dan yang paling utama adalah keberanian untuk membuka diri. Kedengarannya sederhana, ya? Tapi di zaman ketika ego manusia dipompa sedemikian tinggi oleh budaya narsisisme digital, menurunkan ego dan memperlihatkan sisi rapuh kita di hadapan manusia lain adalah salah satu tindakan paling berani yang bisa dilakukan seseorang. Kita harus berani berkata kepada teman kita, “Eh, aku lagi gak oke nih. Boleh numpang ngobrol gak?”. Hanya dengan menurunkan tameng kepura-puraan itulah koneksi yang tulus dan organik antar-manusia bisa mulai dibangun kembali. Kita butuh hubungan yang saling merengkuh, bukan saling memamerkan.
Langkah kedua adalah keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan melakukan perubahan radikal pada lingkungan kita. Jika lingkungan kita saat ini justru menjadi pabrik yang terus-menerus memproduksi depresi dan rasa sepi, maka ambil langkah drastis. Pindah ke kota baru yang atmosfernya lebih hangat, ganti jurusan kuliah yang selama ini memenjarakan jiwa, atau carilah ruang-ruang baru yang tidak biasa.
Di dalam dokumenter tersebut, ada contoh menarik tentang bagaimana seseorang menyalurkan depresi dan kesepiannya lewat humor dengan mencoba stand-up comedy. Itu adalah metode yang jenius. Menertawakan penderitaan kita sendiri di atas panggung di depan orang banyak bukan hanya melepaskan beban di dada, tapi juga membuat kita menyadari bahwa kita tidak sendirian dalam penderitaan tersebut. Penonton tertawa karena mereka merasa terwakili. Penderitaan yang dibagikan lewat tawa berubah menjadi jembatan penghubung antar-jiwa yang kesepian.
Terakhir, dan ini yang sering kali kita lupakan karena terlalu sibuk menatap layar: kita harus terhubung kembali dengan tubuh kita sendiri. Selama mengalami kesepian dan kecemasan, pikiran kita sering kali terbang ke mana-mana, mengembara ke masa lalu yang penuh penyesalan atau melompat ke masa depan yang penuh ketakutan, sementara fisik kita telantar begitu saja di atas kasur.
Melakukan aktivitas berbasis kesadaran penuh (mindfulness) seperti yoga, atau sesederhana jalan kaki di pagi hari tanpa memegang ponsel, adalah cara terbaik untuk membumikan kembali diri kita. Kita perlu membangun kembali hubungan yang positif antara pikiran dan fisik kita. Kita harus belajar merasakan kembali tarikan napas kita, merasakan pijakan kaki kita di atas tanah, dan menyadari bahwa kita hidup di sini, di dunia nyata ini, bukan di dalam dunia piksel yang fana itu.
Akhirul kalam, kesepian di kalangan anak muda zaman sekarang bukanlah sekadar urusan “kurang main” atau “kurang ibadah” seperti yang sering dituduhkan oleh generasi yang lebih tua dengan nada meremehkan. Ini adalah masalah struktural dan eksistensial dari sebuah peradaban yang terlalu cepat berlari hingga meninggalkan kebutuhan emosional dasar manusianya tertinggal di belakang.
Mari kita perlambat sedikit ketukan jempol kita. Taruh ponselmu sebentar saja setelah membaca tulisan ini. Tengoklah ke luar jendela, atau ketuklah pintu kamar sebelahmu. Mari kita srawung kembali dengan cara-cara lama yang memanusiakan. Karena pada akhirnya, penawar terbaik untuk sepi yang menyiksa bukanlah algoritma terbaru dari Silicon Valley, melainkan tatapan mata yang tulus dan kehadiran fisik seorang kawan yang bersedia duduk bersama, mendengarkan tanpa menghakimi, sambil ditemani segelas teh hangat yang pelan-pelan mendingin. Tetap sehat waras jiwanya, ya!
