Dunia hari ini, kalau dipikir-pikir, makin hari makin gemar menyiksa manusia lewat hal-hal paling remeh. Ambil contoh urusan berpakaian. Konon, baju adalah cerminan identitas, ruang berekspresi, atau apalah itu istilah mentereng orang-orang komunikasi. Tapi bagi perempuan muda di China belakangan ini, urusan beli baju bukan lagi soal estetika atau mengikuti selera influencer TikTok yang wajahnya mulus mirip porselen pajangan. Urusan beli baju sudah bergeser menjadi urusan bertahan hidup, sebuah kalkulasi rasional yang setara dengan cara bapak-bapak menghitung efisiensi bahan bakar sepeda motornya.
Belakangan ini, jagat media sosial di Negeri Tirai Bambu—mului dari Xiaohongshu sampai Douyin—sedang ramai oleh sebuah tren yang agak di luar nalar sosiologis penjahit konvensional: perempuan-perempuan muda berbondong-bondong menyerbu etalase pakaian pria. Mereka tidak sedang membelikan kado untuk pacarnya yang ultah, bukan pula sedang berbakti membelikan kemeja baru untuk bapaknya di kampung. Mereka membeli kaus oblong, kemeja katun, hingga celana pendek pria berukuran M atau L untuk dipasang di badan mereka sendiri.
Kalau Anda mengira ini adalah gerakan feminisme radikal yang ingin mendobrak sekat gender, Anda mungkin terlalu banyak membaca buku teks kuliah. Kenyataannya jauh lebih membumi, sekaligus agak getir: ini adalah protes sunyi melawan industri fesyen wanita yang makin tidak masuk akal, bersekongkol dengan realitas ekonomi yang sedang megap-megap sejak akhir 2022.
Pakaian Wanita yang Dijual, Kebanyakan Kekecilan
Mari kita bedah dulu pangkal masalahnya. Mengapa perempuan di China mendadak malas melirik departemen baju wanita? Jawabannya sederhana: karena industri fesyen wanita di sana sudah berubah menjadi fasis dalam urusan ukuran.
Beberapa tahun terakhir, ada tren gila-gilaan di China yang menuntut pakaian wanita dibuat sekecil mungkin. Ada istilah populer yang menyebut standar baju wanita sekarang sudah bergeser “seukuran baju anak-anak”. Jika Anda seorang perempuan dewasa dengan tinggi badan di atas rata-rata, atau sekadar memiliki berat badan yang normal (bukan kurus kering layaknya manekin toko), mencari baju yang pas di mal sudah seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Anda dipaksa muat ke dalam baju yang kalau dipakai bernapas saja, jahitannya sudah berbunyi krek.
Ini bukan sekadar masalah kain yang kurang, melainkan bentuk body-shaming terselubung yang dilembagakan oleh industri. Perempuan didikte untuk kelaparan demi bisa masuk ke dalam sepotong celana jin ukuran S yang standarnya makin hari makin menyusut.
Maka, ketika perempuan-perempuan muda ini iseng melipir ke lorong pakaian pria, mereka seperti menemukan oase di tengah padang pasir. Baju pria itu longgar. Desainnya tidak menuntut lekuk tubuh Anda menonjol ke mana-mana. Memakai kemeja pria membuat mereka bisa duduk dengan selonjoran tanpa takut kancing perutnya lepas dan memantul ke jidat orang di depannya. Ada rasa bebas yang merdeka yang selama ini dirampas oleh baju-baju wanita yang ketatnya minta ampun. Bebas dari penghakiman sosial, bebas dari standar kecantikan arus utama.
Kain Tebal, Harga Murah
Alasan kedua yang tidak kalah krusial adalah soal hitung-hitungan duit. Di sinilah letak ironi terbesar industri kapitalisme fesyen. Baju wanita, dengan kain yang lebih tipis, jahitan yang kadang ringkih, dan kantong yang sering kali cuma pajangan (tidak bisa dipakai menyimpan uang koin sekalipun), harganya justru selangit.
Sementara itu, kemeja pria yang dijual di bawah 100 yuan (kalau dirupiahkan sekitar Rp220.000) menawarkan kualitas yang membuat baju wanita tampak seperti kain saringan tahu. Bahannya tebal, adem karena kandungan katun atau linennya tinggi, jahitannya rapi, dan potongannya tegas. Mengapa bisa begitu? Karena konsumen pria dikenal malas belanja, tapi sekali belanja mereka menuntut barang yang awet. Industri paham itu, maka standar baju pria dibuat kokoh agar tidak gampang rusak setelah tiga kali cuci.
Perempuan China yang pintar-pintar itu tentu saja langsung bisa mencium ketidakadilan ekonomi ini. Mengapa mereka harus membayar lebih mahal untuk sepotong fast fashion wanita yang tipis dan gampang melar, jika dengan uang yang lebih sedikit mereka bisa mendapatkan kemeja pria yang bisa dipakai sampai lima tahun ke depan?
Fenomena ini melahirkan istilah baru yang disebut “Konsumsi Terbalik” (reverse consumption). Alih-alih membeli barang demi gengsi atau status sosial, anak-anak muda ini sekarang menaruh nilai guna, fungsi, dan daya tahan barang di atas segalanya. Mereka tidak peduli lagi apakah kancing kemejanya ada di sebelah kiri atau kanan. Yang penting: kainnya nyaman, harganya masuk akal, dan tidak bikin dompet menangis.
Kantong Celana Pria Bisa Muat Apa Saja
Satu hal detail yang sering luput dari perhatian laki-laki, tapi menjadi berkah luar biasa bagi perempuan yang beralih ke pakaian pria, adalah perkara kantong celana.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa kantong pada celana wanita adalah salah satu konspirasi terbesar dalam sejarah modern. Kantong celana wanita kalau tidak dijahit mati (hanya hiasan), ukurannya paling-paling cuma muat untuk menyelipkan selembar karcis parkir atau lipstik. Kalau Anda nekat memasukkan ponsel pintar ukuran layar besar ke kantong celana jin wanita, separuh badan ponsel itu pasti akan menyembul keluar, siap merosot kapan saja ke lubang toilet.
Bandingkan dengan celana pria. Seseorang pernah melakukan eksperimen di media sosial Xiaohongshu dan mendapati bahwa celana pria ukuran M sanggup menampung sebuah komputer tablet berukuran 11 inci di dalam kantongnya! Ini bukan lagi sekadar kantong celana; ini adalah kantong ajaib Doraemon.
Bagi perempuan pekerja modern di China, kepraktisan ini adalah kemewahan. Mereka bisa berjalan ke kedai kopi atau naik kereta bawah tanah tanpa harus selalu mencangklong tas tangan yang merepotkan. Ponsel, dompet, kunci apartemen, bahkan barangkali sebuah buku saku, semuanya bisa tenggelam dengan aman di dalam saku celana pria. Industri fesyen wanita selama puluhan tahun telah memaksa perempuan untuk selalu membeli tas dengan cara menghilangkan fungsi kantong di baju mereka. Dan kini, perempuan-perempuan itu membalas dendam dengan cara membeli celana pria.
Ekonomi Sedang Lesu
Kita tidak bisa memandang tren ini secara terisolasi hanya sebagai urusan selera fesyen anak muda yang sedang bosan. Tren ini adalah anak kandung dari realitas makroekonomi yang sedang lesu di China sejak akhir tahun 2022.
Setelah hantaman pandemi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi, daya beli masyarakat di sana memang tidak sedang baik-baik saja. Ditambah lagi, kultur kerja di kota-kota besar China sangatlah brutal. Ada istilah terkenal: jadwal kerja “996”—masuk jam 9 pagi, pulang jam 9 malam, selama 6 hari seminggu.
Bayangkan, Anda adalah seorang perempuan pekerja kantoran yang setiap hari diperas tenaganya selama 12 jam sehari. Ketika pulang ke apartemen, tubuh Anda sudah remuk redam. Apakah dalam kondisi mental yang lelah seperti itu, Anda masih punya energi untuk memikirkan padu padan baju yang rumit, ketat, dan tidak nyaman demi menyenangkan pandangan orang lain? Tentu tidak. Anda hanya butuh baju yang longgar, tidak gerah, gampang dicuci, dan tidak perlu sering-seterika. Kemeja over-sized pria memenuhi semua syarat kedaruratan hidup tersebut.
Di sisi lain, industri fesyen wanita di China sebenarnya juga sedang menjerit. Sektor pakaian menyusut drastis sejak pandemi. Biaya bahan baku melonjak naik. Demi menekan biaya operasional agar perusahaan tidak gulung tikar, banyak merek lokal yang mengambil jalan pintas yang fatal. Mereka memotong biaya desainer, lalu membeli pola baju siap pakai dari produsen di Asia Tenggara. Masalahnya, pola baju tersebut sering kali tidak sesuai dengan proporsi dan tinggi badan masyarakat lokal China.
Tak hanya itu, untuk menghemat kain dan biaya penjahitan yang makin mahal, merek-merek ini sengaja memangkas produksi pakaian berukuran besar (XL ke atas). Membuat baju ukuran besar butuh kain lebih banyak dan teknik potong yang lebih rumit. Akibat kalkulasi pelit ala korporasi ini, pasar baju wanita menjadi seragam: semuanya berukuran mini, tipis, dan berharga mahal. Maka klop sudah: ketika industri wanita sengaja mempersempit pilihannya, konsumen wanita melenggang kangkung menyeberang ke departemen pria yang pintunya terbuka lebar.
Ketika Pasar Dipaksa Menyerah pada Logika Konsumen
Algoritma media sosial seperti biasa menangkap peluang ini dengan cepat. Sadar bahwa tagar seputar perempuan memakai baju pria menembus puluhan juta tayangan, para agensi live streaming di China sekarang gencar mempromosikan pakaian pria sebagai model unisex. Para pria yang menjadi model siaran langsung dengan santai mempromosikan jaket atau kemeja mereka dengan kalimat, “Baju ini juga sangat cocok untuk adik-adik perempuan yang ingin tampil santai.”
Pada akhirnya, tren perempuan China membeli pakaian pria adalah sebuah tamparan keras bagi para pelaku industri fesyen yang selama ini bebal. Selama bertahun-tahun, industri merasa bisa mendikte tubuh perempuan lewat ukuran-ukuran tidak realistis dan harga yang dimahalkan secara sepihak atas nama tren global.
Namun, ketika ekonomi melambat dan hidup menjadi semakin keras, manusia akan selalu kembali pada naluri dasarnya: mencari kenyamanan dan keamanan (termasuk keamanan dompet). Perempuan-perempuan muda di China telah membuktikan bahwa mereka tidak perlu tunduk pada standar baku yang merepotkan. Mereka cukup melangkah ke bagian pakaian pria, mengambil kemeja katun longgar yang murah, memasukkan tablet mereka ke dalam kantong celana, dan berjalan keluar dengan senyum penuh kemenangan. Sebuah kemenangan kecil, namun sangat fungsional, di tengah dunia yang makin membingungkan ini.
