Jamaah Islamiah Telah Bubar, tetapi Bayangnya Tidak

Mari kita mulai tulisan ini dengan sebuah ingatan yang agak ngilu di dada. Bagi generasi yang melewati awal tahun 2000-an dengan pertumbuhan hormon kedewasaan, berita televisi kita dulunya tidak diisi oleh joget TikTok atau drama perselingkuhan artis. Menu wajib layar kaca kita belakangan itu adalah sebuah kata yang begitu mendengar saja, bulu kuduk kita langsung berdiri: teror bom.

Kita tentu belum lupa bagaimana rasanya menjadi cemas setiap kali hendak melangkah ke pusat perbelanjaan, hotel berbintang, atau bahkan rumah ibadah. Ada masa di mana ransel yang tergeletak tanpa tuan di pojok ruangan bisa membuat seisi gedung bubar tunggang-langgang. Di balik semua kecemasan massal itu, ada satu nama organisasi yang bertindak sebagai sutradara bayangan di ruang gelap sejarah kita: Jemaah Islamiyah (JI).

Lalu, bertahun-tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2024 kemarin, sebuah berita besar datang mengejutkan kita semua. Para petinggi Jemaah Islamiyah berkumpul, duduk tegap di depan kamera, lalu membacakan sebuah deklarasi yang terdengar sangat melegakan: mereka resmi membubarkan diri dan menyatakan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sang monster yang selama dua dekade ditakuti itu, tiba-tiba mengetuk pintu rumah kita, menyodorkan tangan untuk bersalaman, lalu pamit undur diri.

Sebagai manusia yang menyukai kedamaian, reaksi pertama saya tentu saja adalah bersyukur. Alhamdulillah, satu duri dalam daging bangsa ini akhirnya tercabut secara sukarela. Namun, sebagai orang yang gemar merenung di sela-sela waktu minum kopi sore, saya juga tidak bisa menahan munculnya sebuah pertanyaan yang agak mengganjal: apakah urusan ideologi radikal bisa selesai begitu saja hanya dengan selembar kertas pernyataan bubar dan jabat tangan di depan aparat?

Di sinilah letak kecemasan baru itu. Organisasinya boleh saja mati secara administratif di atas kertas segel. Namun, ideologi—seperti yang kita tahu—adalah mahluk halus yang tidak butuh kantor, tidak butuh struktur pengurus, dan tidak butuh izin legalitas untuk tetap hidup. Muncul kekhawatiran yang sangat beralasan di kalangan pengamat terorisme bahwa pembubaran ini jangan-jangan hanyalah sebuah strategi ganti kulit, sebuah fase hibernasi sebelum sel-sel yang menolak tobat membentuk gerakan baru yang lebih rapi, yang sering dijuluki sebagai New Jemaah Islamiyah. Papan namanya diturunkan, tetapi keyakinannya tetap dirawat di ruang-ruang bawah tanah yang sunyi.

Jaringan Gurita Lintas Negara

Untuk memahami mengapa ideologi kelompok ini begitu liat dan susah punah, kita harus memutar balik jarum jam sejarah, menengok bagaimana gurita jaringan ini pertama kali dibangun. JI bukanlah kelompok amatir kelas ormas lokal yang anggotanya hanya modal berteriak di jalanan. Mereka adalah sebuah korporasi teror multinasional yang memiliki manajemen sangat rapi dan visi global.

Tengok saja kisah hidup Fathur Rahman Al-Ghozi. Ketika dia ditangkap oleh polisi Filipina di Manila pada Januari 2002 silam, dunia tersentak. Dari balik interogasi, terkuaklah sebuah peta jaringan yang luar biasa luas. Al-Ghozi bukanlah orang sembarangan; dia adalah tokoh kunci JI yang mengikat wilayah Malaysia, Singapura, hingga Indonesia ke dalam satu komando operasional. Lebih mengerikan lagi, jalur komunikasinya tersambung langsung dengan lingkaran dalam Osama bin Laden, sang nakhoda Al-Qaeda. Al-Ghozi adalah tipe manusia ideologis yang hidupnya dihabiskan di medan perang, hingga akhirnya dia tewas dalam kontak senjata dengan aparat di Filipina pada tahun 2003 setelah sempat melakukan aksi nekat melarikan diri dari penjara.

Manusia-manusia radikal ini tidak lahir dari sekadar membaca pamflet atau menonton video propaganda singkat. Mereka adalah lulusan dari sebuah “universitas perang” yang sangat teruji. Banyak anggota JI dari Asia Tenggara—termasuk dari Indonesia—yang dikirim langsung ke Afghanistan. Di sana, di bawah langit gersang dan di dalam kamp-kamp pelatihan militer milik Al-Qaeda, mereka diajari cara menembak, taktik gerilya, hingga seni merakit bom dengan daya ledak tinggi. Mereka pulang ke tanah air bukan lagi sebagai pemuda pengajian biasa, melainkan sebagai mesin perang yang memiliki keahlian teknis tingkat tinggi.

Manajemen mereka pun dibagi per wilayah dengan sangat rapi melalui struktur Majelis Syura. Jaringan di Singapura dan Malaysia diatur ketat oleh Hambali alias Nurjaman, seorang pria asal Cianjur yang reputasinya sempat membuat dinas intelijen Amerika Serikat kelabakan. Sementara di Indonesia sendiri, figur senior seperti Abu Bakar Ba’asyir ditunjuk menjadi Ketua Majelis Syura Majelis Mujahidin di Yogyakarta pada tahun 2000. Ini adalah sebuah orkestrasi gerakan yang sangat terencana, terstruktur, dan memiliki pembagian kerja yang sangat profesional.

Misteri Dokumen 15 Halaman

Di tengah ketegangan perburuan jaringan teror itu, sejarah kita sempat mencatat sebuah drama intelijen yang lumayan membingungkan. Pada Februari 2002, sebuah surat kabar terkemuka di Singapura, The Straits Times, mendadak mempublikasikan sebuah dokumen kontroversial setebal 15 halaman. Isi dokumen itu sangat bombastis: sebuah rencana detail dari JI untuk melakukan serangan jihad besar-besaran terhadap kedutaan besar Amerika Serikat yang tersebar di wilayah Asia Tenggara.

Ketika dokumen itu bocor ke publik, kegaduhan langsung pecah. Menariknya, respons dari para petinggi keamanan di Indonesia saat itu justru dipenuhi oleh nada skeptisisme yang tinggi. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) saat itu, A.M. Hendropriyono, bersama Kapolri Jenderal Dai Bachtiar, kompak mengeluarkan pernyataan yang senada: mereka menegaskan bahwa di lapangan, aparat belum menemukan bukti fisik yang detail dan sahih mengenai keberadaan jaringan internasional sekolosal itu di tanah Indonesia.

Muncul kecurigaan bahwa dokumen 15 halaman itu jangan-jangan hanyalah sebuah alat propaganda psikologis (psy-war) yang sengaja ditiupkan oleh pihak asing atau dinas intelijen luar negeri. Tujuannya? Untuk mendesak dan memaksa pemerintah Indonesia agar segera mengambil tindakan represif tanpa kompromi terhadap kelompok-kelompok Islam tertentu.

Perdebatan mengenai keaslian dokumen itu sempat menjadi polemik panjang di warung-warung kopi hingga ruang diskusi para pakar. Namun, perdebatan akademis itu mendadak menjadi tidak ada artinya lagi ketika teka-teki itu dijawab oleh rentetan suara ledakan yang nyata di dunia riil.

Rangkaian Bom

JI menjawab keraguan publik bukan lewat bantahan rilis pers, melainkan lewat aksi-aksi teror yang meninggalkan luka sangat dalam di sekujur tubuh republik ini. Grup dan sel-sel yang terafiliasi dengan mereka bertanggung jawab atas deretan aksi terorisme terbesar yang pernah dicatat oleh sejarah modern Indonesia.

Mari kita urutkan lembaran hitam itu. Pada tahun 2000, mereka memulai unjuk kekuatan dengan mengebom rumah Duta Besar Filipina di Jakarta. Belum kering darah dari insiden itu, pada malam Natal di tahun yang sama, mereka melakukan sebuah aksi gila yang terkoordinasi dengan sangat rapi: pengebom serentak di 20 gereja di berbagai kota di Indonesia dalam satu malam yang suci. Itu adalah pesan jelas bahwa mereka sedang mendeklarasikan perang terbuka.

Puncaknya terjadi pada 12 Oktober 2002. Sebuah ledakan kolosal mengguncang kawasan Kuta, Bali. Bom Bali 1, begitu kita mengenangnya hari ini. Dilakukan dengan alasan sentimental sebagai aksi balas dendam atas invasi Amerika Serikat ke Afghanistan, ledakan itu meluluhlantakkan pusat hiburan malam, menyisakan puing-puing gosong, dan menewaskan 202 manusia tak berdosa yang mayoritasnya adalah warga negara asing. Bali yang damai mendadak berubah menjadi neraka dalam semalam.

Setahun kemudian, tahun 2003, giliran ibu kota yang dihantam. Sebuah bom mobil yang dikemudikan oleh seorang pengantin bom bernama Asmar Latin Sani meledak di depan Hotel JW Marriott Jakarta, merenggut 12 nyawa manusia yang sedang mengais rezeki di sekitar lokasi.

Seolah belum puas, tahun-tahun berikutnya diisi oleh parade horor yang konsisten: Pengeboman Kedutaan Besar Australia pada 2004, Bom Bali 2 pada 2005, hingga serangan kedua ke Hotel Marriott dan Ritz-Carlton pada tahun 2009. Setiap ledakan selalu diikuti oleh tangisan keluarga korban, hancurnya iklim pariwisata, dan rasa trauma yang mendalam bagi kita yang menyaksikannya.

Jatuhnya Para Maestro

Republik ini tentu tidak boleh kalah oleh teror. Di tengah kepungan asap bom itu, aparat keamanan kita—khususnya melalui detasemen khusus—mulai bergerak taktis melakukan perburuan besar-besaran. Eksistensi operasional JI perlahan-lahan mulai meredup dan kehilangan tajinya justru setelah negara berhasil melumpuhkan para tokoh penentu dan pakar militer mereka satu per satu secara berturut-turut.

Nama pertama yang berhasil disilang dari daftar buruan adalah Dr. Azhari. Dia adalah seorang pria asal Malaysia bergelar doktor, tetapi keahlian utamanya adalah merancang bom dengan daya hancur yang sangat presisi. Dialah otak teknologi di balik Bom Bali. Pelarian sang “Maestro Maut” ini berakhir tragis dalam sebuah penggerebekan dramatis di Batu, Malang, pada tahun 2005. Dr. Azhari tewas tertembak, mengakhiri suplai otak teknologi bom bagi jaringan JI.

Empat tahun kemudian, tahun 2009, giliran rekan duetnya yang paling berbahaya, Noordin M. Top, yang berhasil dilumpuhkan. Jika Azhari adalah perakit bom, maka Noordin adalah sang konseptor, sang motivator ulung yang pandai mencari pemuda-pemuda labil untuk dijadikan pengantin bom bunuh diri. Pelarian panjang Noordin yang hobi berpindah-pindah tempat itu akhirnya kandas setelah dia tewas dikepung aparat di Surakarta.

Lalu, pada tahun 2010, giliran Dulmatin yang harus menerima giliran nasibnya. Tokoh penting JI yang memiliki keahlian militer mumpuni ini tewas dalam sebuah operasi penyergapan yang rapi di sebuah rumah ruko di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Dengan tewasnya para pentolan utama ini, Jemaah Islamiyah kehilangan otot dan otaknya. Mereka mendadak gagap, kocar-kacir, dan kehilangan kemampuan eksekusi taktis di lapangan, hingga akhirnya sisa-sisa pengurusnya memilih jalan pamit bubar di tahun 2024 kemarin.

Menjaga Warung Tetap Waras di Tengah Sisa Bara

Kini, setelah dua dekade berlalu dan organisasi tersebut sudah menyatakan bubar, apa tugas terbesar kita sebagai masyarakat biasa? Tugas kita adalah tetap memelihara akal sehat dan tidak boleh lengah sedikit pun.

Kita harus belajar dari sejarah panjang ini bahwa terorisme tidak pernah murni urusan senjata atau bahan peledak. Senjata dan bom hanyalah alat; hulu ledak yang sebenarnya ada di dalam pikiran manusia yang telah diracuni oleh dogma kebencian, oleh rasa merasa paling benar sendiri, dan oleh ketidakmampuan menerima perbedaan di bawah langit republik ini.

Pembubaran JI di tahun 2024 adalah sebuah kemenangan taktis bagi keamanan negara, tetapi perjuangan kebudayaan kita melawan radikalisme masih jauh dari kata selesai. Sisa-sisa bara ideologi itu mungkin masih ada yang terselip di dalam ruang-ruang diskusi tertutup, di bawah lembaran buku-buku tertentu, atau di dalam hati manusia yang masih mendendam masa lalu.

Cara terbaik untuk memastikan agar New Jemaah Islamiyah atau kelompok sejenis tidak pernah lahir kembali di tanah ini bukanlah dengan cara mencurigai setiap tetangga kita yang taat beragama. Bukan pula dengan cara menjadi paranoid yang berlebihan.

Cara terbaiknya adalah dengan tetap merawat ruang-ruang sosial kita agar tetap hangat, humanis, dan inklusif. Kita harus memastikan bahwa anak-anak muda kita mendapatkan asupan spiritualitas yang menyejukkan, yang mengajarkan kasih sayang, bukan yang memicu amarah dan kebencian. Kita harus menjaga warung kopi kita, lingkungan RT kita, dan media sosial kita tetap diisi oleh obrolan-obrolan yang waras, jernih, dan menghargai kemanusiaan. Jangan sampai, karena kita abai merawat kedamaian sehari-hari, kita membiarkan benih-benih maut itu kembali menemukan tanah subur untuk tumbuh dan merusak indahnya rumah bersama bernama Indonesia ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *