Kita ini sering kali terlalu romantis kalau bicara soal warisan Belanda. Begitu melihat bangunan tua dengan pintu tinggi, jendela lebar, dan tembok tebal, bawaannya langsung pengin foto aesthetic buat diunggah ke Instagram. Kita lupa, atau mungkin sengaja pura-pura lupa, bahwa setiap jengkal tembok tebal dan rel besi yang membentang di tanah Jawa ini tidak dibangun dengan motif cinta atau keinginan memajukan peradaban bumiputera. Jauh dari itu. Motifnya sangat pragmatis, kalau tidak mau dibilang rakus: urusan perut dan kekuasaan.
Mari kita sepakati satu hal sejak awal: pemerintah Hindia Belanda itu bukan yayasan penyalur bantuan sosial. Ketika mereka mulai sibuk mengukur tanah dan menancapkan rel kereta api di Nusantara, kepala mereka cuma isinya tiga hal: ekonomi, militer, dan politik.
Dari segi ekonomi, mereka itu kapitalis tulen yang efisien. Kebijakan Tanam Paksa (Cultuurstelsel) telah membuat gudang-gudang di pedalaman Jawa penuh sesak dengan tebu, kopi, dan tembakau. Hasil bumi ini adalah emas pada zamannya. Masalahnya, bagaimana membawa berkuintal-kuintal kopi dari lereng gunung ke pelabuhan Semarang untuk dikapalkan ke Eropa? Pakai cikar? Pakai gerobak sapi? Terlalu lama. Keburu busuk di jalan, atau keburu dicuri bandit lokal. Maka, kereta api adalah solusi paling mutakhir saat itu. Rel digelar agar pundi-pundi gulden di Amsterdam makin tebal.
Lalu, jangan lupakan aspek militer dan politik. Menjaga wilayah jajahan seluas Nusantara itu melelahkan. Orang pribumi itu, biarpun sering dianggap penurut, sesekali punya hobi memberontak. Kalau ada kerusuhan di pedalaman, mengirim pasukan jalan kaki atau berkuda tentu butuh waktu berhari-hari. Kereta api menyelesaikan masalah logistik militer ini dengan jitu. Begitu ada letupan perlawanan, kereta tinggal diisi kompi serdadu lengkap dengan bedilnya, lalu meluncur cepat menuju lokasi. Efektif untuk menindas, sekaligus menegaskan siapa bos di tanah ini. Jadi, rel kereta api pertama kita itu, kawan, sebenarnya adalah rantai pengikat kekuasaan.
Dari Angkutan Hasil Bumi Ke Angkutan Prajurit
Namun, sejarah punya cara unik untuk membalikkan keadaan. Senjata yang diciptakan untuk menindas, suatu hari nanti akan dipakai untuk melawan balik. Hukum besi sejarah ini juga berlaku untuk kereta api.
Ketika angin kemerdekaan mulai berembus kencang di sekitar tahun 1945, fungsi kereta api bergeser 180 derajat. Gerbong-gerbong yang tadinya dipakai untuk mengangkut kopi Belanda, tiba-tiba berubah menjadi kendaraan taktis para pejuang kita. Kereta api menjadi urat nadi mobilisasi pasukan Republik. Ia mengangkut pemuda-pemuda berambut gondrong dengan bambu runcing dan senapan rampasan dari satu kota ke kota lain untuk mempertahankan kemerdekaan.
Puncaknya, kereta api bahkan menjadi penyelamat simbol negara kita. Ingat cerita tentang Kereta Api Luar Biasa (KLB) yang membawa Bung Karno dan Bung Hatta mengungsi dari Jakarta ke Yogyakarta pada awal tahun 1946? Jakarta saat itu sudah tidak aman karena kedatangan tentara Sekutu dan NICA. Maka, dalam operasi senyap di tengah malam yang dramatis, sebuah rangkaian kereta disiapkan untuk menyelamatkan para pemimpin republik.
Di sinilah ironi manis itu terjadi: fasilitas yang dulu dibangun Belanda untuk menancapkan kukunya di Nusantara, justru menjadi alat vital bagi berdirinya republik baru yang menendang mereka keluar. Pasca-kemerdekaan, kereta api tidak lagi menjadi simbol eksploitasi. Ia dinasionalisasi, diubah fungsinya menjadi pelayan rakyat. Ia mengangkut pedagang pasar dengan keranjang sayurnya, mahasiswa yang pulang kampung, hingga keluarga yang ingin mudik Lebaran. Kereta api resmi menjadi milik kita.
Stasuin Pertama ada di Semarang
Kalau kita bicara soal kota kereta api, ingatan kolektif kita hari ini mungkin akan langsung tertuju pada Yogyakarta dengan Stasiun Tugu-nya yang syahdu, atau Jakarta dengan Stasiun Kota-nya yang megah. Padahal, jika kita mau jujur pada sejarah, kiblat pertama perkeretaapian Indonesia itu ada di Semarang. Kota atlas inilah titik nol-nya.
Lebih dari 150 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 1864, Gubernur Jenderal Baron Sloet van de Beele melakukan peletakan batu pertama jalur kereta api di Semarang. Proyek ambisius ini dikerjakan oleh perusahaan swasta bernama Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Jalur pertama yang mereka bangun bukanlah jalur antar-kota besar yang mewah, melainkan jalur pendek sepanjang 26 kilometer yang menghubungkan Stasiun Samarang menuju Stasiun Tanggung di Grobogan.
Bayangkan betapa geger dan takjubnya orang-orang Jawa saat itu melihat “jaran kore” (kuda besi) berjalan di atas rel, menyemburkan asap hitam, dan mengeluarkan bunyi melengking yang membelah keheningan desa. Jalur Semarang–Tanggung inilah laboratorium pertama perkeretaapian kita. Di sinilah teknologi modern Eropa pertama kali dipaksakan masuk ke dalam kultur agraris masyarakat Jawa. Semarang adalah rahim dari seluruh jaringan rel yang hari ini kita nikmati di sepanjang pulau Jawa dan Sumatra.
Stasiun Pertama Sudah Menjadi Kampung Penduduk
Lucunya, meskipun Semarang adalah tempat lahirnya kereta api, kita sebagai bangsa sempat “lupa ingatan” tentang di mana tepatnya stasiun pertama itu berdiri. Ini kan ajaib. Kita bisa mengingat dengan detail tempat nongkrong kita malam minggu lalu, tapi stasiun paling bersejarah di republik ini sempat menjadi misteri dan perdebatan selama puluhan tahun.
Selama bertahun-tahun, ada versi umum yang menyebutkan bahwa stasiun tertua itu adalah Stasiun Kemijen atau Stasiun Gudang. Pokoknya daerah-daerah di dekat pelabuhan. Tapi, bagi para penggila kereta yang tergabung dalam Indonesian Railway Preservation Society (IrPS), jawaban itu terasa janggal. Mereka ini ibarat detektif swasta yang tidak gampang percaya pada papan nama dinas.
Anak-anak IrPS ini mulai membongkar arsip lama, membandingkan foto kuno, dan membaca peta-peta buatan Belanda. Mereka curiga karena bangunan yang diklaim sebagai Stasiun Kemijen itu bentuknya terlalu kecil, lebih mirip rumah sinyal ketimbang stasiun pusat sebuah perusahaan sebesar NIS. Logikanya, stasiun pertama dari sebuah perusahaan elite pasti megah dan menyandang nama perusahaan atau nama kota itu sendiri secara resmi: Stasiun Samarang.
Pencarian ini mirip film petualangan Indiana Jones, bedanya tidak ada jebakan panah beracun, melainkan jebakan lumpur dan genangan air rob. Akhirnya, pada tahun 2009, teka-teki itu terjawab. Melalui pelacakan titik koordinat lama yang sangat presisi, ditemukanlah lokasi asli Stasiun Samarang. Dan tebak di mana lokasinya? Bukan di pinggir jalan protokol, bukan pula di kawasan cagar budaya yang rapi. Lokasi itu terselip di dalam pemukiman padat penduduk di Kawasan Gang 10, Kelurahan Kemijen, Semarang Timur. Stasiun pertama kita telah menjelma menjadi perkampungan.
Sudah Amblas Tiga Meter
Mengetahui lokasi Stasiun Samarang yang asli adalah satu hal, tetapi melihat kondisinya hari ini adalah hal lain yang bisa membuat dada kita terasa sesak. Kalau Anda membayangkan stasiun tertua itu dirawat rapi seperti Lawang Sewu, dengan lampu-lampu sorot yang indah di malam hari, siap-siaplah untuk kecewa sekecewa-kecewanya.
Kondisi bekas Stasiun Samarang hari ini adalah potret sempurna dari bagaimana cara kita memperlakukan sejarah: mengenaskannya minta ampun. Kawasan Kemijen dan sekitarnya adalah langganan banjir rob dan mengalami penurunan permukaan tanah yang sangat masif. Tanah di sana amblas hingga sekitar 3 meter selama bertahun-tahun.
Akibatnya apa? Bangunan stasiun purba itu kini “tenggelam”. Kalau Anda berkunjung ke sana, Anda harus menunduk untuk melihat kusen pintu kuno dan ventilasi udara bangunan era kolonial tersebut. Bagian atas pintu yang dulunya tinggi menjulang, sekarang posisinya sejajar dengan permukaan tanah atau malah terendam air payau. Rumah-rumah warga dibangun di atas dan di sekeliling reruntuhan stasiun ini.
Dulu, kompleks Stasiun Samarang ini adalah kawasan vital yang memiliki lima bangunan utama: stasiun penumpang yang sibuk, stasiun barang, depo atau bengkel kereta, hingga rumah dinas para pejabat NIS. Sekarang? Kompleks itu sudah hancur lebur, sulit dikenali, dan sebagian besar strukturnya hilang tergerus waktu, terendam banjir rob, atau bahkan sempat dijarah masal di masa-masa kacau pasca-perang. Sejarah perkeretaapian kita harfiah sedang tenggelam ke dalam bumi.
Menjadi Fosil Bumi
Nasib yang sama juga menimpa jalur rel pertama sepanjang 26 kilometer yang menghubungkan Semarang dan Tanggung. Jangan harap Anda bisa melakukan napak tilas berjalan kaki di atas bantalan relnya sambil menikmati pemandangan sawah seperti di film-film petualangan. Jalur rel legendaris itu kini sudah gaib.
Banjir rob yang terjadi selama puluhan tahun, ditambah akumulasi endapan lumpur dan pembangunan jalan, telah mengubur rel pertama Indonesia sedalam-dalamnya. Rel itu kini telah menjadi fosil di bawah tanah Semarang. Di atas rel yang dulunya dilalui oleh lokomotif uap generasi awal, sekarang mungkin sudah berdiri dapur rumah warga, jalan beraspal, atau pabrik-pabrik industri.
Ini adalah ironi yang getir. Kita adalah bangsa yang gemar membangun jalan tol baru, menyanjung-nyanjung modernitas, tetapi sangat payah dalam menjaga fondasi awal dari mana modernitas itu bermula. Rel pertama kita tidak dihancurkan oleh bom musuh, melainkan dilupakan secara perlahan oleh alam dan ketidakpedulian kita sendiri.
Awalnya Hanya 25 Kilometer
Namun, mari kita adil. Di balik cerita sedih tentang Stasiun Samarang yang amblas dan rel pertama yang terkubur, sejarah perkeretaapian kita tidak sepenuhnya berisi ratapan. Ada kisah sukses yang luar biasa dari anak-anak bangsa yang meneruskan warisan ini.
Semua pergerakan modern ini dimulai ketika para pemuda yang tergabung dalam Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) dengan berani mengambil alih pengelolaan kereta api dari tangan tentara pendudukan Jepang pada 28 September 1945. Tanggal inilah yang kemudian kita peringati sebagai Hari Kereta Api Nasional. Sejak saat itu, kendali penuh ada di tangan kita.
Harus kita akui, PT KAI dalam satu-dua dekade terakhir ini telah melakukan lompatan kuantum yang luar biasa. Urusan pelestarian aset heritage bergerak kini dikelola dengan cukup baik. Lokomotif-lokomotif kuno berbahan bakar kayu dan batu bara dikumpulkan dan dirawat di Museum Kereta Api Ambarawa. Bangunan ikonik seperti Lawang Sewu diselamatkan dari kekumuhan dan diubah menjadi destinasi wisata kelas wahid. Stasiun-stasiun era Belanda yang masih aktif direnovasi tanpa kehilangan karakter klasiknya.
Coba tengok statistiknya, dan Anda akan geleng-geleng kepala. Dari yang awalnya hanya satu jalur pendek sepanjang 25-26 kilometer di Semarang pada tahun 1867, kini pada tahun 2026, panjang jalur kereta api di seluruh Indonesia telah meluas hingga mencapai 7.583 kilometer!
Bukan cuma soal panjang rel, melainkan juga soal budaya bertransportasi. Kereta api kita hari ini sudah sangat modern, bersih, dan tepat waktu. Kita punya KRL Commuter Line yang mengangkut jutaan kaum komuter urban setiap hari, kita punya kereta jarak jauh yang nyaman dengan sistem tiket digital yang rapi, dan kita bahkan sudah punya kereta cepat.
Esai ini ingin membawa kita pada satu perenungan: rel kereta api kita hari ini melaju sangat cepat menuju masa depan, tetapi sebagian dari tubuhnya masih tertanam di lumpur masa lalu Semarang yang amblas. Kita boleh bangga dengan kereta cepat dan stasiun-stasiun modern yang megah, tetapi jangan pernah lupa pada gang sempit di Kemijen, tempat di mana lokomotif pertama melepaskan peluit pertamanya di tanah Nusantara. Sebab, bangsa yang besar bukan cuma tahu cara membeli tiket kereta modern, melainkan juga tahu cara menghargai stasiun pertama yang melahirkannya.
