Sebagai warga kelas menengah yang kalau beli mi instan masih mikir-mikir mau nambah telur atau tidak, membaca berita keuangan belakangan ini sukses bikin kepala saya agak cenut-cenut. Ada cerita tentang seorang juragan besar dari Kalimantan Selatan—siapa lagi kalau bukan Haji Isam—yang baru saja belanja saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) senilai Rp26,1 triliun.
Gila. Dua puluh enam triliun rupiah!
Bagi orang seperti saya yang kalau nemu uang Rp20.000 di saku celana jeans tua saja bahagianya sudah seperti dapat hadiah jalan sehat kelurahan, angka 26 triliun itu tidak bisa dibayangkan pakai akal sehat. Kalau uang sebanyak itu dijajarkan dalam pecahan seratus ribuan, mungkin panjangnya bisa buat menyambung pulau Jawa sampai Madura lewat jalan tol tanpa putus.
Tapi, yang paling menarik dari aksi borong saham jumbo ini bukanlah sekadar angka nolnya yang bikin pusing. Yang bikin saya—dan para analis saham berjas necis—manggut-manggut penuh keheranan adalah bagaimana cara beliau membayar belanjaan jumbo tersebut.
Mari kita bahas ini sambil santai, sebab kalau dibawa tegang, uang kita juga tidak bakal bertambah serupiah pun.
Menggadaikan Surat Tanah Demi Membeli Sawah Tetangga
Ibaratnya begini. Anda punya kebun sawit yang cukup luas di kampung. Kebun itu menghasilkan, tapi untungnya ya standar-standar saja. Lalu, di sebelah kampung Anda, ada seorang kakek kaya raya bernama Pak Low Tuck Kwong yang punya gunung batu bara super masif. Gunung itu saban tahun mengeruk emas hitam yang laku keras di pasar dunia, lalu rutin membagikan bagi hasil (dividen) yang nilainya bikin mata hijau.
Anda ingin punya bagian dari gunung batu bara itu. Tapi masalahnya, dompet Anda sedang tidak memegang uang tunai segar sebesar puluhan triliun. Lantas apa yang Anda lakukan?
Apakah Anda mundur perlahan sambil mengelus dada? Oh, tentu tidak. Bagi kelas juragan, jalan selalu ada selama ada bank yang mau diajak kompromi.
Maka, pergilah pengusaha dari Kalimantan ini ke bank milik negara—sebut saja Bank Mandiri. Dia bilang ke orang bank: “Pak, saya mau pinjam duit buat beli 30 persen saham gunung batu bara Pak Low Tuck Kwong. Sebagai jaminannya, nih saya serahkan surat kepemilikan kebun sawit saya yang bernama PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN). Tidak tanggung-tanggung, 92 persen saham kebun sawit itu saya gantungkan di brankas Anda!”
Sontak saja pasar modal heboh. Bayangkan, hampir seluruh saham PGUN—alias 92,38 persen—diserahkan jadi agunan! Ini bukan lagi sekadar menggadaikan BPKB motor Supra fit buat modal jualan gorengan, tapi sudah level menyerahkan kunci rumah, pagar, dapur, sampai jemuran baju ke tangan juragan bank.
Gimana Cara Bayar Utangnya, Bambang?
Di sinilah letak kejeniusan—atau nekadnya, tergantung dari sudut mana Anda memandang—skema keuangan ini.
Orang awam pasti bertanya: “Kalau kebun sawit PGUN dijaminkan ke bank, apakah hasil panen kelapa sawitnya yang dipake buat bayar utang 26 triliun itu?”
Jawabannya: Ya tidak usah, kecapekan!
Aliran dana utama buat mencicil pinjaman triliunan ke Bank Mandiri itu rencananya justru diambil dari dividen saham BYAN yang baru dibeli tersebut. Batu bara Bayan Resources itu terkenal sangat rajin membagikan dividen jumbo tiap tahun. Dari porsi 30,25 persen saham yang baru dibeli itu saja, potensi dividen yang masuk ke kantong Haji Isam diperkirakan bisa mencapai triliunan rupiah per tahun.
Duit dividen itulah yang diputar balik buat bayar utang dan bunga ke bank.
Ini namanya teknik Leveraged Buyout (LBO)—bahasa kerennya para ahli keuangan buat menggambarkan aksi “membeli barang mahal menggunakan dana pinjaman, di mana barang yang dibeli itu sendiri yang dipakai buat melunasi utangnya”.
Sungguh sebuah permainan yang sangat elegan, bukan? Beli barang pakai uang bank, lalu hasil dari barang itu dipakai buat bayar bank. Kuncinya cuma satu: Anda harus punya reputasi dan agunan awal yang cukup tebal buat bikin direksi bank yakin dan tidak masuk angin.
Kenapa Orang-orang Pada Khawatir?
Kalau skemanya seindah itu, kenapa pasar modal dan para pengamat kok malah sibuk mengernyitkan dahi?
Pertama, soal kedudukan. Haji Isam membeli 30,25 persen saham BYAN, tapi ingat, beliau bukan pengendali utama. Pengendali utama dan pemilik kunci Bayan tetaplah Pak Low Tuck Kwong dan keluarganya. Artinya, yang berhak menentukan berapa besar dividen yang mau dibagi-bagikan tiap tahun ya Pak Low Tuck Kwong, bukan Haji Isam. Kalau suatu hari nanti Pak Low Tuck Kwong memutuskan: “Tahun ini dividen ditahan dulu ya, mau dipakai buat bikin kapal selam,” maka pusinglah orang-orang yang mengandalkan dividen itu buat bayar cicilan utang bank.
Kedua, soal volatilitas harga saham. Saham itu bukan emas batangan yang harganya relatif stabil. Hari ini harga saham PGUN dan BYAN bisa terbang tinggi, tapi besok kalau ada isu komoditas batu bara merosot atau pasokan sawit melimpah, harganya bisa meluncur bebas ke bawah. Kalau harga saham PGUN yang dijaminkan melorot tajam, Bank Mandiri bisa panik dan minta setoran jaminan tambahan (margin call).
Maka dari itu, Bank Mandiri berburu-buru memberi klarifikasi ke publik: “Tenang, tenang… Saham PGUN itu cuma jaminan tambahan kok, jaminan utamanya tetap aset fisik dan akun dana perusahaan.” Wajar kalau bank perlu menenangkan publik, sebab uang yang dipinjamkan itu kan uang nasabah juga, bukan uang tabungan pribadi para direksi bank.
Pelajaran Kesederhanaan dari Jagat Triliunan
Melihat atraksi keuangan kelas paus ini membuat saya merenungi nasib rakyat biasa.
Di level bawah, rakyat kalau mau pinjam uang Rp5 juta ke bank harus menyerahkan BPKB motor asli, disurvei rumahnya, dicek tempat usahanya, diwawancarai tetangganya, sampai dipastikan tidak punya tunggakan pinjol. Itu pun kadang pinjamannya masih ditolak dengan alasan “profil risiko tidak memadai”.
Sementara di level atas, para raksasa bisnis bisa menggeser saham puluhan triliun hanya dengan berbekal perjanjian jual beli, menjaminkan saham perusahaan lain, lalu membiarkan aliran dividen yang mengurus cicilannya.
Apakah ini tidak adil? Ya belum tentu. Keuangan skala raksasa memang punya hukum fisika-nya sendiri. Risiko yang mereka tanggung juga berbanding lurus dengan angka-angka fantastis yang diputar. Salah hitung sedikit saja, kerajaannya bisa goyah dan menyeret banyak pihak.
Apapun itu, aksi borong saham BYAN oleh entitas Haji Isam serta penggadaian saham PGUN ke Bank Mandiri ini telah memberi kita pelajaran berharga: bahwa dalam dunia bisnis, keberanian mengambil risiko dan kelincahan memanfaatkan skema keuangan sering kali lebih menentukan daripada sekadar menumpuk uang tunai di bawah kasur.
Kini, kita yang cuma penonton papan atas bursa saham tinggal menunggu episode selanjutnya: apakah gunung batu bara itu akan terus mengeruk dividen melimpah untuk membayar bank, ataukah dinamika pasar komoditas dunia akan memberi kejutan di tengah jalan?
Sembari menunggu kelanjutannya, mari kita kembali menyeduh kopi. Dan kalau Anda mau pinjam uang ke teman sebesar lima puluh ribu rupiah nanti malam, pastikan Anda tidak mencoba menjaminkan kunci gembok pagar rumah Anda kepadanya. Tidak semua orang punya karisma seperti juragan sawit dari Kalimantan!
