Hari ini, tanggal 17 Oktober, Presiden kita, Pak Prabowo Subianto, genap berusia 75 tahun.
Sebagai warga negara yang baik, yang kalau bayar pajak tepat waktu walau kadang masih suka ngedumel sendiri, tentu kita layak mengucapkan selamat ulang tahun kepada beliau. Mugi-mugi panjang umur, sehat selalu, dan kuat menanggung beban pikiran mengurus negara yang warganya hobi protes di media sosial ini.
Ngomong-ngomong soal ulang tahun tokoh besar, biasanya orang-orang bakal sibuk membahas pencapaian, karier politik, atau barangkali menu makanan apa yang disajikan di Istana. Tapi kalau kita bicara soal Pak Prabowo, ada satu hal unik yang hampir pasti tidak boleh dilewatkan: kecintaan beliau yang begitu mendalam terhadap angka 8.
Bagi orang biasa seperti saya, angka 8 itu ya cuma sekadar angka yang datang setelah angka 7 dan sebelum angka 9. Dalam kehidupan sehari-hari orang kecil, angka 8 paling sering muncul kalau kita lagi beli beras 8 kilo, dapet kembalian Rp8.000, atau kalau kebetulan dapet nomor antrean puskesmas nomor 08.
Tapi bagi Pak Prabowo, angka 8 bukan sekadar deretan garis meliuk di atas kertas. Angka 8 adalah jimat, kode rahasia, simbol nasib, sekaligus kompas hidup yang menemani perjalanan panjangnya sampai akhirnya duduk di kursi Presiden Republik Indonesia ke-8.
Mari kita bedah mitos dan magis angka 8 ini sambil selonjoran, biar tidak terlalu tegang seperti orang lagi gladi bersih upacara.
Berawal dari HT di Kopassus
Kisah cinta Pak Prabowo dengan angka 8 ini sebetulnya bukan hasil datang ke dukun numerologi di pinggir jalan, apalagi hasil meramal pakai kartu tarot. Keterikatan ini bermula dari dunia yang sangat keras dan maskulin: dunia militer.
Dulu, saat beliau masih aktif bertugas di Korps Pasukan Khusus (Kopassus), setiap perwira punya kode panggil (call sign) di HT atau radio komunikasi. Nah, kode panggil Pak Prabowo saat itu adalah “08” (dibaca: kosong delapan atau zero eight).
Bayangkan suasana di medan tugas puluhan tahun lalu. Di tengah pekatnya hutan, suara kresek-kresek radio genggam berbunyi, lalu terdengar sahutan: “08 masuk, 08 masuk…”
Sandi militer ini begitu melekat. Bahkan ketika beliau sudah pensiun dari tentara, melepas seragam loreng, lalu berganti baju taktik warna krem dan kemeja putih, julukan “08” itu tidak pernah luntur. Orang-orang di lingkaran dekatnya—bahkan para pendukung fanatiknya—lebih mantap menyebut beliau dengan sebutan “Pak 08” ketimbang nama lengkapnya. Kode panggil di radio zaman perwira menengah itu berubah jadi merek dagang politik yang sangat legendaris.
Angka yang Mengikuti Garis Takdir
Uniknya, angka 8 ini seolah-olah punya kakinya sendiri dan terus membuntut ke mana pun Pak Prabowo melangkah.
Setelah melalui perjalanan politik yang berdarah-darah—turun naik panggung pemilu, berkali-kali kalah sampai mungkin lelah menghitung berapa kali ganti spanduk kampanye—beliau akhirnya resmi dilantik menjadi Presiden ke-8 Republik Indonesia.
Coba bayangkan betapa pasnya momen itu. Kalau diibaratkan skenario film Hollywood, penulisan jalan ceritanya sungguh terlalu rapi. Seorang mantan prajurit berkode radio “08”, setelah menunggu sekian dekade, akhirnya memimpin negara sebagai Presiden nomor 8.
Bahkan Pak Prabowo sendiri dalam beberapa kesempatan sering berseloroh soal keajaiban deret angka dalam hidupnya. Beliau pernah bilang kalau munculnya angka-angka ini tidak pernah diatur-atur atau direkayasa sejak awal. Semuanya mengalir begitu saja seperti air sungai yang akhirnya sampai ke laut. Saat bertemu dengan Presiden Brasil yang juga kebetulan menggemari angka 8, Pak Prabowo dengan semringah mencocok-cocokkan “kebetulan” tersebut.
Bagi orang yang percaya pada garis tangan, ini jelas dianggap sebagai isyarat langit. Bagi orang yang skeptis, ini mungkin cuma kebetulan statistik yang dibesar-besarkan. Tapi bagi Pak Prabowo sendiri, angka 8 jelas punya tempat emosional yang sangat spesial di dadanya.
Kenapa Harus Angka 8?
Secara filosofis, kenapa sih angka 8 itu begitu diistimewakan, tidak cuma oleh Pak Prabowo tapi juga oleh banyak kebudayaan di dunia?
Coba Anda ambil pulpen, lalu tulis angka 8 di kertas. Apa yang Anda lihat?
Angka 8 adalah satu-satunya angka tunggal yang garisnya dibuat tanpa putus. Dia berputar dari atas ke bawah, meliuk di tengah, lalu kembali lagi ke titik awal tanpa ada ujung yang patah. Dalam dunia matematika dan simbolisme, bentuk ini mirip dengan lambang infinity (ketakhinggaan).
Bentuk ini melambangkan kontinuitas, ketahanan, dan keseimbangan. Angka 8 tidak punya sudut tajam yang bikin kaget. Dalam tradisi Tionghoa, angka 8 (ba/fa) sangat dipuja karena bunyinya mirip dengan kata yang berarti “kemakmuran” atau “rejeki”. Dalam filosofi Jawa, angka yang bundar dan tersambung melambangkan kebulatan tekad yang tidak pernah patah di tengah jalan.
Kalau kita tarik ke perjalanan hidup Pak Prabowo, simbolisme angka 8 ini terasa masuk akal. Beliau adalah tipe politisi yang menunjukkan daya tahan (endurance) luar biasa. Dihujat, dikritik, kalah di Pemilu 2004 (konvensi), 2009 (cawapres), 2014 (capres), 2019 (capres lagi)—kalau itu terjadi pada orang biasa, mungkin sudah lama pensiun lalu memilih fokus ternak lele atau mengurus kebun durian di kampung halaman.
Tapi Pak Prabowo terus berputar seperti garis angka 8. Jatuh, meliuk, kembali lagi ke panggung, sampai akhirnya meraih tujuan tertingginya.
Harapan untuk Presiden Umur 75
Hari ini, di usianya yang ke-75 tahun, Pak Prabowo berdiri di puncak menara kepemimpinan nasional. Angka 8 yang dulu cuma sandi suara di HT kini sudah menjelma jadi stempel sejarah.
Sebagai rakyat biasa, tentu kita tidak terlalu peduli apakah kebijakan pemerintah nantinya dihitung berdasarkan numerologi atau kalkulasi ekonomi ketat. Yang kita pedulikan adalah: apakah dengan Presiden ke-8 ini, harga beras bisa lebih ramah di kantong? Apakah lapangan kerja makin terbuka? Dan apakah keadilan tidak cuma milik orang-orang yang punya uang triliunan?
Karakter angka 8 yang tak pernah putus itu semoga tidak cuma mencerminkan daya tahan pribadi beliau dalam mengejar kekuasaan, melainkan juga mencerminkan komitmen yang tak pernah putus dalam menyejahterakan rakyatnya.
Selamat ulang tahun yang ke-75, Pak Presiden “08”. Mumpung harinya sedang istimewa, semoga kesehatan selalu menyertai Bapak. Dan semoga, angka 8 yang Bapak agungkan itu benar-benar membawa hoki—bukan cuma buat Bapak dan lingkaran Istana, tapi buat seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang saban hari masih harus berjuang menyambung hidup.
Sugeng ambal warsa, Pak 08!
