Kalau ada perlombaan tentang siapa yang paling jago menyatukan manusia di muka bumi, kita harus jujur bahwa agama dan politik sering kali gagal di putaran pertama.
Agama, alih-alih menyatukan, kerap terjebak dalam perang dogma yang membuat orang saling tuduh sesat dan berakhir saling serang. Imperium dan kekuatan militer? Ya, mereka memang bisa menyatukan jutaan orang di bawah satu bendera, tapi caranya kasar: lewat dentuman meriam, ayunan pedang, dan ancaman penjara. Begitu cengkeraman tentaranya melemah, rakyatnya langsung memberontak.
Tapi ada satu pemeran utama dalam sejarah yang sanggup membuat dua musuh bebuyutan duduk tenang di satu meja, tersenyum lebar, dan berjabat tangan tanpa perlu baku hantam. Pemeran itu adalah Kapten Kepeng alias Uang.
Lihat saja humor gelap dalam panggung sejarah kita. Pada abad ke-13 di Semenanjung Iberia, raja-raja Kristen dan para penguasa Muslim terlibat perang dahsyat. Namun anehnya, kerajaan Kristen tanpa ragu mencetak koin emas yang memuat kaligrafi Arab berbunyi “Tiada Tuhan selain Allah”, semata agar koin itu laku di pasar. Sebaliknya, para saudagar Muslim dengan senyum mengembang dan tangan terbuka menerima koin-koin berstempel gambar Salib.
Bahkan di era modern yang penuh tensi ini, keajaiban yang sama terus berulang. Otoritas Palestina yang saban hari berkonflik keras dengan Israel, tetap menggunakan mata uang Shekel Israel untuk membeli roti dan membayar listrik harian. Lebih kocak lagi jika mengingat almarhum Osama bin Laden. Beliau boleh saja mengutuk Amerika Serikat sampai ke ubun-ubun di setiap pidatonya, tetapi jika urusan logistik dan operasional, tumpukan yang dicarinya tetaplah lembaran Dolar AS berwajah Benjamin Franklin.
Uang punya sihir toleransi yang melampaui segala bentuk sekat ideologi. Di hadapan uang, perbedaan agama, ras, dan pilihan politik mendadak menguap begitu saja.
Mitos Dongeng Barter
Sejak Sekolah Dasar, kita selalu dijajaki cerita yang klise di buku pelajaran: “Dulu, sebelum ada uang, manusia bertransaksi dengan cara barter. Petani membawa beras untuk ditukar dengan sepatu tukang kulit.”
Harari lewat komiknya menertawakan mitos ini. Dongeng barter itu sejatinya tidak pernah ada dalam skala ekonomi masyarakat purba!
Manusia purba yang hidup sebagai pemburu-pengumpul itu pada dasarnya hidup berswasembada dalam kelompok kecil. Ekonomi mereka dibangun di atas prinsip berbagi, saling memberi, dan utang budi. Kalau pamanmu dapat daging rusa hari ini, dia akan membagikannya ke seluruh anggota suku. Tidak ada yang menuntut: “Kamu harus bayar daging ini dengan dua buah mangga!” Sebab, besok kalau pamanmu gagal berburu, dia yang akan menumpang makan di tempatmu.
Sistem bertukar barang secara langsung (barter) baru dicoba ketika populasi meledak dan muncul pembagian kerja yang rumit pasca-Revolusi Pertanian. Tapi barter langsung terbukti cacat secara matematis.
Bayangkan kalau kamu seorang petani apel yang butuh sepatu baru. Kamu mendatangi tukang sepatu, tapi si tukang sepatu ternyata sedang tidak ingin makan apel, melainkan butuh garam. Kamu harus mencari pembuat garam, yang celakanya tidak butuh apel melainkan butuh pisau. Otak manusia bisa pecah hanya untuk menghitung berapa rate penukaran sepasang sepatu dengan puluhan komoditas berbeda!
Usaha untuk menghapus sistem pertukaran bebas dan kembali ke prinsip kepemilikan bersama juga pernah dicoba di era modern—seperti eksperimen Komunisme di Uni Soviet dengan jargon “Bekerja sesuai kemampuan, menerima sesuai kebutuhan”. Hasilnya? Runtuh berantakan karena berlawanan dengan realitas dorongan ekonomi manusia.
Manusia butuh satu alat ukur universal. Maka diciptakanlah uang.
Halusinasi tentang Nilai Sebuah Kertas
Lantas, apa sebetulnya uang itu? Apakah dia zat kimia? Apakah dia tunduk pada hukum gravitasi Newton atau teori relativitas Einstein?
Sama sekali tidak. Uang adalah Realitas Intersubjektif—alias fiksi kolektif. Uang ada dan berkuasa semata-mata karena imajinasi bersama. Benda apa pun di dunia ini bisa menjadi uang, asalkan semua orang di suatu wilayah sepakat untuk “berhalusinasi” bahwa benda tersebut memiliki nilai.
Bentuk uang pun mengalami evolusi yang sangat menggelitik:
- Uang Organik / Nyata (5.000 Tahun Lalu): Di Sumeria kuno, orang memakai sila (takaran gandum/jelai). Gandum ini punya nilai intrinsik nyata: bisa dimakan atau diolah jadi bir. Tapi kelemahannya amat menyusahkan: berat kalau dibawa-bawa, cepat membusuk, dan rawan ludes dimakan tikus di gudang.
- Uang Alat / Logam Kuno: Manusia mulai beralih menggunakan pisau perunggu di Tiongkok kuno, hingga koin emas dan perak. Logam mulia dipilih karena tahan lama dan jumlahnya terbatas di alam.
- Uang Digital Modern: Nah, di era hari ini, ilusi uang sudah mencapai level puncak. Dari sekitar $80 triliun total uang yang beredar di bumi, wujud fisik kertas dan koinnya cuma ada sekitar $8 triliun! Sembilan puluh persen uang di dunia hari ini sejatinya cuma berupa deretan angka digit (0 dan 1) yang mengapung di server komputer perbankan.
Kita bekerja membanting tulang dari pagi sampai malam, memeras keringat dan pikiran, bukan lagi demi mendapatkan tumpukan emas atau berkarung-karung gandum, melainkan demi melihat angka digit di layar ponsel kita bertambah beberapa baris!
Bahan Utama Uang adalah “Kepercayaan”
Kalau uang digital cuma angka di server dan uang kertas cuma serpihan kayu yang dicetak, lalu apa bahan mentah utama dari uang? Bahan mentahnya bukan emas, perak, atau tinta mahal. Bahan mentah utama uang adalah Kepercayaan (Trust).
Begitu kepercayaan publik runtuh, lembaran uang kertas terbaik pun akan berubah fungsi menjadi sekadar kertas pemungkus kacang atau bahan bakar api unggun—seperti yang pernah terjadi saat hiperinflasi gila-gilaan di Republik Weimar Jerman atau Zimbabwe.
Inilah alasannya mengapa tindakan memalsukan uang di banyak kerajaan kuno hingga negara modern diancam dengan hukuman mati atau kejahatan tingkat tinggi. Mengapa? Karena si pemalsu uang bukan sekadar mencuri materi, melainkan merusak dan mengkhianati institusi kepercayaan publik yang menjadi penopang peradaban.
Berkat kepercayaan raksasa yang melintasi benua ini, emas yang dirampas penjajah Eropa dari benua Amerika pada abad ke-16 bisa dipakai dengan mulus untuk membeli kain sutra dan rempah-rempah di Asia.
Kepercayaan manusia berevolusi dengan sangat efisien: dari emas mentah, berkembang menjadi kertas yang dijamin emas, lalu menjadi Kertas Fiat (kertas yang bernilai cuma karena janji dan jaminan pemerintah), hingga akhirnya menjadi digit virtual di aplikasi perbankan digital kita hari ini.
Sisi Gelap dan Terang Sebuah Uang
Harari menggambarkan uang seperti mata uang itu sendiri: punya dua sisi yang saling bertolak belakang.
Sisi terangnya adalah uang merupakan simbol toleransi tertinggi. Uang tidak pernah peduli apakah pemiliknya beragama Kristen, Islam, Hindu, Buddha, atau Ateis. Uang tidak pernah bertanya apakah kamu pria, wanita, ras Kaukasia, atau Melayu. Selama uangmu asli, semua toko dan pasar di seluruh dunia akan menyambutmu dengan senyuman hangat. Uang jauh lebih inklusif dan terbuka ketimbang dogma mana pun di bumi.
Namun, sisi gelapnya pun tak kalah mengerikan.
Uang membangun kepercayaan pada koin, kertas, atau digit angka—bukan pada sosok manusianya. Ketika kamu bertransaksi dengan kasir supermarket, kamu tidak perlu kenal sifat kasir itu, dan kasir itu tidak perlu peduli pada penderitaan hidupmu. Yang saling percaya adalah sistem di balik uang kertas tersebut.
Bahayanya, ketika seseorang kehabisan uang, dia mendadak kehabisan “kepercayaan” dari orang-orang di sekitarnya. Kapitalisme dan uang berisiko mengubah seluruh interaksi sosial manusia menjadi pasar yang dingin dan nir-empati.
Bahkan dalam sejarah, moral dan spiritualitas pun sering kali tak luput dari komersialisasi. Ingat bagaimana Gereja Katolik di Eropa pada abad ke-15 sempat menjual Surat Pengampunan Dosa (Indulgensi)? Dosa dan keselamatan surga yang sejatinya urusan spiritual yang sakral, mendadak bisa ditransaksikan dengan beberapa keping koin perak.
Uang Agama Terbesar yang Disembah Tanpa Perlu Tempat Ibadah
Ada hubungan sejarah yang sangat unik antara uang dan agama. Kalau kita merunut sejarah, penggunaan emas secara masif di masa purba justru diawali untuk membuat patung dewa-dewa di dalam kuil. Dan sampai hari ini, pada lembaran uang Dolar AS yang menjadi raja mata uang dunia, masih tercetak kalimat teologis yang sangat tegas: “In God We Trust”.
Namun, jika kita mau jujur dan melihat realitas lapangan hari ini, siapakah “Tuhan” yang paling nyata disembah oleh seluruh manusia dari ujung Kutub Utara hingga wilayah khatulistiwa?
Jawabannya bukan dewa-dewi mitologi, bukan pula para nabi dari naskah kuno.
Uang adalah satu-satunya “agama” yang secara tak tertandingi berhasil menyatukan seluruh spesies Homo Sapiens di planet bumi.
Penganut agama A mungkin tidak akan mau beribadah di rumah ibadah agama B. Namun, penganut agama A, B, C, hingga yang tidak beragama sekalipun, akan dengan senang hati dan khusyuk menerima lembaran uang yang sama.
Uang adalah fiksi raksasa yang bekerja begitu halus. Dia tidak butuh kitabsuci yang tebal, tidak butuh tempat ibadah yang megah, dan tidak butuh khotbah yang berbusa-busa tiap pekan. Cukup dengan menjanjikan bahwa benda ini bisa ditukar dengan sepinggir pizza atau sepetak rumah, seluruh spesies Sapiens langsung tunduk, percaya, dan bersedia menghabiskan separuh usianya untuk mengejar sang Kapten Kepeng.
