Di sebuah kampung di pinggiran Kabupaten Boyolali, ada satu hukum tak tertulis yang daya ikatnya jauh lebih kuat daripada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mana pun. Hukum itu bernama “pantesan”. Ini adalah sebuah konsensus sunyi yang mengatur bagaimana seorang warga harus bersikap, berpakaian, berbelanja, hingga bagaimana ia harus menghabiskan waktu luangnya. Jika Anda hidup di desa dan melanggar hukum “pantesan” ini, Anda tidak akan masuk penjara, tapi Anda akan masuk ke dalam sesuatu yang jauh lebih menyiksa: obrolan di tukang sayur dan forum ronda.
Selama bertahun-tahun, saya adalah penganut taat hukum pantesan ini. Saya merasa memikul beban moral untuk terlihat “normal” di mata tetangga. Saya merasa harus hadir di setiap kumpulan, meskipun di sana saya hanya duduk mematung mendengarkan gosip tentang siapa yang baru saja menggadaikan sertifikat tanah. Saya merasa harus punya target membeli motor baru agar tidak dianggap “sedang susah,” atau minimal, kalau ada hajatan tetangga, saya harus terlihat menyumbang dalam jumlah yang dianggap layak, meskipun setelah itu saya harus makan mi instan selama dua minggu ke depan.
Namun, ada satu titik di mana manusia akan sampai pada batas elastisitasnya. Titik di mana “apa kata orang” tidak lagi memiliki daya tawar di hadapan “apa kata dompet” dan “apa kata kondisi badan”. Saya sudah sampai di titik itu. Saya memutuskan untuk pasrah, atau lebih tepatnya, melakukan sabotase terhadap ekspektasi sosial yang mencekik.
Mitos “Guyub” yang Melelahkan
Kita sering mengagung-agungkan istilah “guyub” sebagai puncak kearifan lokal masyarakat desa. Guyub digambarkan sebagai suasana penuh harmoni, di mana semua orang saling bantu dan peduli. Tapi mari kita jujur sedikit: kadang-kadang, guyub itu hanyalah kedok untuk campur tangan massal terhadap privasi orang lain. Guyub sering kali menuntut keseragaman. Jika semua orang nongkrong di gardu sampai jam satu malam, maka Anda yang memilih tidur jam sembilan karena harus bekerja keras esok pagi akan dianggap “anti-sosial” atau “sombong”.
Saya sudah tidak punya energi lagi untuk mengejar predikat orang ramah versi kampung. Waktu saya sudah habis diperas oleh pekerjaan. Ketika saya pulang ke rumah dengan punggung yang rasanya mau copot, keinginan terbesar saya adalah rebahan dan memandang langit-langit kamar, bukan duduk di lingkaran kumpulan sambil membahas kenapa si fulan belum juga punya anak atau kenapa si polan tiba-tiba bisa beli mobil bekas.
Memilih untuk tidak hadir dalam kumpulan yang isinya hanya membedah aib orang lain adalah bentuk pertahanan diri paling rasional. Saya sadar, konsekuensinya berat. Nama saya mungkin akan menjadi “menu utama” dalam obrolan mereka berikutnya. “Si itu sekarang sombong ya, nggak pernah kelihatan.” Tapi ya sudah, saya terima. Toh, mereka yang mengobrolkan saya tidak akan membantu membayar cicilan atau memberi vitamin saat saya jatuh sakit karena kurang istirahat.
Ekonomi Gengsi dan Perayaan yang Dipaksakan
Penyakit kronis lainnya di masyarakat kita adalah obsesi untuk merayakan sesuatu melampaui batas kemampuan finansial. Ada semacam tekanan gaib bahwa setiap pencapaian, atau bahkan setiap siklus hidup, harus dirayakan dengan mengundang seluruh warga, lengkap dengan prasmanan dan tenda yang menutup jalan. Jika tidak melakukan itu, rasanya martabat keluarga sedang dipertaruhkan.
Saya sering melihat tetangga yang rela meminjam uang ke bank harian hanya demi bisa mengadakan pesta ulang tahun anak atau syukuran khitanan yang megah. Mereka rela terjerat utang bertahun-tahun hanya demi pujian semalam dari para tamu yang, ironisnya, setelah pulang tetap saja akan mencari-cari kekurangan dari acara tersebut. “Ayamnya agak keras ya,” atau “Es buahnya kurang manis.”
Saya memilih untuk berhenti dari kegilaan ini. Jika saya tidak punya uang untuk mengadakan perayaan, ya saya tidak akan mengadakan apa-apa. Saya tidak akan memaksakan diri agar terlihat “mampu” di depan orang lain. Hidup jujur dengan kondisi keuangan sendiri itu jauh lebih terhormat daripada hidup mewah di atas fondasi utang yang rapuh. Saya tidak peduli jika dicap pelit atau tidak tahu adat. Dalam kamus saya, menjaga stabilitas dapur sendiri jauh lebih suci daripada menjaga gengsi di depan tetangga.
Berhenti Menjadi Budak “Gaya”
Dunia otomotif dan gadget di desa adalah indikator paling kejam untuk mengukur strata sosial. Memiliki motor keluaran terbaru yang harganya setara dengan biaya renovasi rumah sering kali dianggap sebagai bukti kesuksesan. Orang akan lebih disegani jika ia turun dari motor matik bongsor yang masih kinclong, daripada orang yang rajin ibadah tapi motornya sering mogok di tanjakan.
Dulu, saya sempat tergoda untuk ikut arus ini. Ada rasa malu yang terselip ketika harus bersanding di parkiran masjid dengan motor tua saya. Tapi kemudian saya berpikir: untuk apa? Apakah motor baru itu akan membuat tulisan saya lebih bagus? Apakah HP mahal dengan tiga kamera itu akan membuat cicilan saya lunas lebih cepat? Tentu tidak.
Saya memilih untuk tetap dengan apa yang saya punya selama itu masih berfungsi. Saya tidak akan membeli barang hanya agar terlihat kaya dan disegani. Rasa segan yang didasarkan pada benda mati adalah rasa segan yang palsu. Saya ingin orang menghargai saya karena karakter saya, atau setidaknya, biarkan mereka tidak menghargai saya sama sekali karena saya dianggap miskin. Itu jauh lebih menenangkan. Menjadi “tidak dianggap” di dunia persaingan gaya adalah kemerdekaan yang sesungguhnya.
Menikmati Peran Sebagai “Orang Aneh”
Setelah memutuskan untuk tidak lagi peduli dengan standar masyarakat, hidup saya terasa jauh lebih enteng. Memang, di awal-awal ada rasa kikuk. Ada perasaan seperti menjadi alien di tanah kelahiran sendiri. Tapi lama-kelamaan, ketidakpedulian ini menjadi perisai yang sangat efektif.
Ketika ada tetangga yang memamerkan barang barunya, saya hanya perlu tersenyum dan mengucapkan selamat tanpa ada rasa iri. Ketika ada undangan yang tidak bisa saya hadiri karena alasan pekerjaan atau kesehatan, saya cukup meminta maaf tanpa perlu membuat alasan yang dramatis. Saya belajar bahwa kita tidak bisa menyenangkan semua orang, dan itu sama sekali bukan dosa besar.
Masyarakat mungkin punya ekspektasi terhadap diri kita, tapi kita punya hak prerogatif atas hidup kita sendiri. Kita tidak berutang apa pun kepada komentar tetangga. Jika mereka merasa terganggu dengan cara hidup saya yang hemat, yang kurang sosialisasi karena bekerja, atau yang tidak ikut gaya-gayaan, itu adalah masalah mereka, bukan masalah saya.
Ketenangan di Atas Segalanya
Inti dari semua ini adalah mencari ketenteraman. Hidup bermasyarakat itu seharusnya menjadi sistem pendukung, bukan sistem penekan. Jika struktur sosial di sekitar kita justru membuat kita stres, cemas, dan merasa tidak cukup, maka ada yang salah dengan cara kita berinteraksi dengan struktur tersebut.
Saya memilih untuk hidup sesuai kemampuan. Saya tidak ingin terjebak dalam lingkaran setan yang mengharuskan saya bekerja keras hanya untuk membiayai gaya hidup agar diakui oleh orang-orang yang sebenarnya tidak terlalu peduli dengan saya. Saya ingin menghabiskan sisa waktu saya untuk hal-hal yang benar-benar bermakna bagi saya dan keluarga, bukan untuk memoles citra di depan publik kampung.
Pada akhirnya, di hari tua nanti, yang akan menemani kita bukanlah komentar tetangga atau kekaguman orang terhadap motor kita. Yang akan menemani kita adalah kedamaian dalam hati karena kita telah hidup jujur terhadap diri sendiri. Saya sudah pasrah, dan dalam kepasrahan itu, saya menemukan kemerdekaan yang tidak bisa dibeli dengan motor mahal atau pesta megah mana pun. Biarlah saya jadi orang desa yang “tidak pantes” di mata mereka, asalkan saya tetap “pantes” di hadapan hati nurani dan dompet saya sendiri.
