Hidup di Desa Ternyata tidak Semurah yang Orang Kota Kira

Kadang-kadang, saya merasa kasihan dengan orang-orang kota yang setiap kali merasa penat langsung membuka Instagram, melihat foto sawah hijau di pelosok Boyolali atau Klaten, lalu mendesah panjang sambil berucap, “Duh, andai aku tinggal di desa, pasti hidupku lebih tenang dan murah.” Di kepala mereka, desa adalah sebuah utopia di mana harga pecel masih dua ribu perak, udara segar bisa mengenyangkan perut, dan orang-orang tersenyum tulus tanpa tendensi ingin meminjam uang. Izinkan saya, sebagai orang yang akrab dengan urusan remeh-temeh keseharian, untuk sedikit menusuk gelembung mimpi itu. Mari kita bicara soal angka, bukan soal estetika foto filter soft-warm yang Anda banggakan itu.

Anggapan bahwa pindah ke desa adalah solusi instan untuk memangkas pengeluaran itu adalah sesat pikir yang harus segera dicarikan obatnya. Kita sering terjebak pada label “murah” hanya karena melihat harga tanah yang memang lebih miring dibanding lahan di pusat kota yang harganya sudah tidak masuk akal itu. Padahal, urusan hidup bukan cuma soal punya tanah, tapi soal bagaimana Anda mengisi perut dan menjaga kewarasan di atas tanah tersebut setiap harinya. Masalah utamanya sederhana: kalau gaya hidup Anda tetap gaya hidup orang kota yang “manja”, pindah ke lereng gunung sekalipun tidak akan menyelamatkan saldo rekening Anda.

Selisih Seribu yang Menipu Mata

Mari kita bedah soal urusan perut. Banyak yang mengira makan di desa itu murahnya keterlaluan. Memang, kalau Anda mau makan nasi kucing di angkringan pinggir sawah, harganya mungkin lebih murah seribu atau dua ribu rupiah dibanding angkringan di depan mal. Tapi mari kita jujur pada diri sendiri. Kalau Anda sudah terbiasa makan ayam geprek, minum es kopi susu kekinian, atau jajan martabak manis setiap malam, selisih harga di desa itu tidak akan terasa sebagai penghematan. Di desa, harga bahan pokok itu mengikuti hukum pasar nasional. Minyak goreng merk anu di minimarket kota dengan di kelontong desa itu harganya ya sama saja.

Bahkan, seringkali selisih harga makanan matang di warung desa itu hanya berkisar di angka yang sangat kecil. Jika di kota seporsi nasi sayur dan telur harganya dua belas ribu, di desa mungkin sepuluh ribu. Selisih dua ribu itu memang terlihat lumayan kalau Anda makannya sekali setahun. Tapi kalau setiap hari? Penghematannya tidak akan mampu menutup jurang perbedaan pendapatan antara gaji standar profesional di kota besar dengan penghasilan yang bisa Anda dapatkan di desa. Anda menghemat dua ribu perak, tapi kehilangan peluang pendapatan jutaan rupiah. Secara matematika sederhana, ini adalah langkah mundur yang dibungkus dengan narasi “kembali ke alam”.

Jebakan Wisata dan Ongkos Kewarasan

Lalu ada urusan kesehatan mental. Orang kota sering bilang mereka stres karena kemacetan dan polusi, maka mereka butuh desa untuk healing. Namun, mereka lupa bahwa definisi healing mereka sudah terdistorsi oleh fasilitas kota. Di kota, kalau Anda stres, tinggal melipir ke mal, nonton film terbaru di bioskop, atau duduk di kafe estetik yang wangi aromaterapi. Fasilitas itu tersedia dalam radius lima kilometer. Di desa? Jangan harap ada bioskop yang memutar film peraih Oscar. Jangan harap ada kafe dengan barista yang bisa menggambar bentuk hati di atas kopi Anda.

Ketika rasa bosan itu menyerang—dan percayalah, keheningan desa itu bisa sangat menyiksa bagi mereka yang terbiasa dengan hiruk-pikuk—orang kota yang pindah ke desa ini akan mencari kompensasi. Ke mana? Ya kembali ke kota. Akhirnya, mereka harus menempuh perjalanan puluhan kilometer hanya untuk menonton film atau sekadar makan burger yang layak. Berapa ongkos bensinnya? Berapa waktu yang terbuang di jalan? Belum lagi risiko ban bocor atau mesin kepanasan. Biaya transportasi untuk mencari “hiburan kota” ini seringkali jauh lebih mahal daripada total biaya hiburan bulanan saat mereka masih tinggal di kota. Mereka ingin hidup murah di desa, tapi jiwanya masih haus akan kemewahan kota. Ini namanya menyiksa diri sambil memboroskan bensin.

Pajak Sosial yang Tak Terduga

Hal yang paling sering luput dari perhitungan kalkulator para calon migran desa adalah apa yang saya sebut sebagai “pajak sosial”. Di kota, Anda bisa menjadi anonim. Tetangga sebelah apartemen Anda mungkin tidak tahu kalau Anda sedang bokek atau baru saja putus cinta. Di desa, hal itu mustahil. Desa adalah ruang publik yang sangat telanjang. Ada tuntutan untuk “ngumumi” atau bersosialisasi dengan standar lingkungan setempat. Dan “ngumumi” ini tidak gratis, kawan.

Coba hitung berapa kali dalam sebulan ada tetangga yang menikah, khitanan, atau berangkat umroh. Di desa, sumbangan itu wajib hukumnya jika Anda ingin dianggap sebagai manusia. Belum lagi iuran RT, dana sosial kematian, sumbangan pembangunan masjid, hingga iuran untuk acara tujuh belas agustusan yang rapatnya bisa berminggu-minggu. Biaya-biaya kecil ini kalau dikumpulkan bisa lebih besar daripada biaya parkir mal yang Anda keluhkan itu. Di kota, Anda mungkin hanya memberi tip pada tukang parkir, tapi di desa, Anda harus memberi “tip” pada seluruh struktur sosial agar tidak digunjingkan saat belanja di warung kelontong.

Antara Udara Segar dan Mental yang Teruji

Memang benar, hidup di desa itu punya sisi positif yang tidak bisa dibeli dengan uang di kota. Udara yang tidak berbau knalpot bus, pemandangan hijau yang langsung menyapa saat membuka jendela, dan lahan yang luas sehingga anak-anak bisa berlari tanpa takut tertabrak ojek daring. Kualitas hidup secara fisik memang jauh lebih baik. Anda tidak perlu berebut oksigen dengan jutaan orang lainnya. Rumah tidak berhimpitan, dan Anda masih bisa mendengar suara jangkrik di malam hari, bukan suara musik disko dari gedung sebelah.

Namun, kualitas hidup fisik tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas mental. Banyak orang kota yang akhirnya stres di desa bukan karena polusi, tapi karena tekanan sosial yang terlalu erat. Di desa, privasi adalah barang mewah. Setiap langkah Anda diamati, setiap pembelian barang baru dikomentari, dan setiap perbedaan gaya hidup dianggap sebagai keanehan. Bagi orang yang terbiasa bebas di kota, tekanan “harus sama dengan yang lain” ini bisa merusak kesehatan mental lebih cepat daripada kemacetan Jakarta. Jadi, sebelum memutuskan pindah, tanyakan pada diri sendiri: apakah Anda siap menukar privasi dengan udara segar?

Akhir dari Sebuah Ilusi

Jadi, hidup di desa itu murah? Jawabannya adalah: tergantung seberapa sanggup Anda menjadi orang desa seutuhnya. Kalau Anda sanggup makan hanya dari hasil kebun sendiri, memakai baju yang itu-itu saja tanpa peduli tren, dan tidak merasa perlu ke mal setiap akhir pekan, maka desa memang murah. Tapi kalau Anda masih ingin gaya hidup kota dengan dekorasi desa, bersiaplah untuk kecewa. Desa tidak akan menyesuaikan diri dengan dompet Anda; Andalah yang harus menyesuaikan diri dengan ritme desa yang seringkali justru lebih menuntut secara finansial dan sosial.

Pada akhirnya, pindah ke desa seharusnya bukan tentang melarikan diri dari biaya hidup, melainkan tentang memilih masalah mana yang sanggup kita hadapi. Apakah kita lebih sanggup menghadapi polusi dan kemacetan kota, atau lebih sanggup menghadapi “pajak sosial” dan keterbatasan fasilitas di desa? Jangan sampai Anda pindah ke desa hanya untuk menemukan bahwa kemiskinan di desa terasa jauh lebih menyesakkan daripada kemiskinan di kota. Karena di desa, saat Anda tidak punya uang, seluruh kampung akan tahu, dan itu adalah biaya mental yang harganya tidak bisa Anda tawar-tawar lagi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *