Dalam Pelajaran Bisnis, satu kesalahan adalah pertanda langkah kita lebih maju

Ada satu hambatan terakhir untuk sungguh­-sungguh memanfaatkan kuasa keputusan itu. Yaitu bahwa kita harus mengatasi ketakutan kita untuk keliru mengambil keputusan. Jelas, Anda pasti akan mengambil keputusan­ keputusan keliru dalam kehidupan Anda. Anda pasti gagal! Yang jelas saya sendiri tidak selalu mengambil keputusan yang benar selama ini. Jauh dari itu. Akan tetapi, itu sudah saya maklumi. Saya juga tidak akan selalu mengambil keputusan yang benar di masa depan. Telah saya tentukan bahwa apa pun keputusan saya, saya akan bersikap fleksibel, mempelajari konsekuensi­ – konsekuensinya, belajar darinya, dan menggunakan pelajaran-­pelajaran terse­but untuk mengambil keputusan-­keputusan yang lebih baik di masa depan. Ingatlah: Sukses itu sebenarnya adalah hasil dari pertimbangan yang baik. Pertimbangan yang baik adalah hasil dari pengalaman, dan pengalaman itu sering kali merupakan hasil dari pertimbangan buruk! Pengalaman­ pengalaman yang tampaknya buruk atau menyakitkan itu terkadang justru yang paling penting. Ketika orang sukses, mereka cenderung berpesta; ketika mereka gagal, mereka cenderung merenung, lalu mereka mulai membuat pembedaan-­pembedaan baru yang akan meningkatkan kualitas kehidupan mereka. Kita harus berkomitmen untuk belajar dari kesalahan-­kesalahan kita, daripada menghajar diri sendiri, kalau tidak, kita pasti membuat kesalahan serupa di masa depan

Walaupun pengalaman pribadi itu penting, renungkanlah betapa berharga­ nya kalau kita juga mempunyai model peran—seseorang yang pernah menjadi navigasi di arus deras sebelum Anda dan mempunyai peta yang baik yang bisa Anda ikuti. Anda bisa mempunyai model peran untuk keuangan Anda, model peran untuk hubungan-­hubungan Anda, model peran untuk kesehatan Anda, model peran untuk profesi Anda, atau model peran untuk aspek apa pun dari kehidupan Anda, yang sedang Anda belajar kuasai. Mereka bisa menghemat waktu Anda bertahun-­tahun dan melindungi Anda dari mengulangi kesalahan mereka.

Akan ada saatnya ketika Anda sendirian di sungai dan Anda harus mengambil keputusan­-keputusan penting sendiri. Kabar baiknya adalah bahwa kalau Anda bersedia belajar dari pengalaman, maka bahkan saat-­saat yang mungkin Anda anggap sulit pun menjadi menyenangkan karena memberikan informasi berharga—pembedaan-­pembedaan kunci—yang akan Anda gunakan untuk mengambil keputusan­-keputusan yang lebih baik di masa depan. Bahkan, orang yang luar biasa sukses yang Anda jumpai akan memberi tahu Anda— kalau mereka jujur—bahwa alasan mereka lebih sukses adalah karena mereka telah mengambil lebih banyak keputusan buruk daripada Anda. Orang-orang di seminar saya sering menanyakan, “Berapa lamakah menurut Anda, saya baru bisa menguasai keterampilan yang satu ini?” Dan jawaban seketika saya adalah, “Anda sendiri maunya berapa lama?” Kalau Anda ambil tindakan sepuluh kali seharinya (dan mendapatkan pengalaman belajar yang propor­sional dengan itu), sementara orang lain menjajal keterampilan barunya hanya sebulan sekali, Anda akan mendapatkan pengalaman sepuluh bulan dalam sehari, Anda akan segera menguasai keterampilan tersebut, dan ironisnya, mungkin akan dianggap “berbakat dan mujur”.

Saya menjadi pembicara yang sangat baik karena, bukannya seminggu sekali, saya pastikan diri berbicara tiga kali sehari kepada siapa pun yang mau mendengarkan. Sementara yang lain dalam organisasi saya berbicara empatpuluh delapan kali setahunnya, saya sudah berbicara empat puluh delapan kali dalam waktu dua minggu. Dalam waktu sebulan, saya sudah mendapatkan pengalaman dua tahun. Dan dalam waktu setahun, saya sudah mendapatkan pertumbuhan sepuluh tahun. Rekan­-rekan saya membicarakan betapa “mujur” saya ini dilahirkan dengan bakat “bawaan” seperti itu. Saya coba memberi tahu mereka apa yang saya sampaikan kepada Anda sekarang ini: lamanya waktu yang dibutuhkan untuk penguasaan itu tergantung kepada Anda sendiri. Namun demikian, apakah semua ceramah saya hebat? Jauh dari itu! Akan tetapi, saya pastikan saya belajar dari setiap pengalaman dan memperbaiki diri hingga dalam waktu singkat saya bisa memasuki ruangan seberapa pun besarnya dan sanggup menjangkau orang­-orang, katakanlah dari segala bidang kehidupan

Seberapa siap pun Anda, ada satu hal yang mutlak bisa saya jamin: kalau Anda mengarungi sungai kehidupan, kemungkinan besar Anda akan memben­tur batu. Itu bukannya bersikap negatif; itu bersikap akurat. Kuncinya adalah bahwa ketika Anda akhirnya membentur batu, daripada menghukum diri sen­diri karena menjadi demikian “pecundang”, ingatlah bahwa yang namanya pecun­dang dalam kehidupan itu tidak ada. Yang ada hanyalah hasil-­hasilnya. Seandainya Anda tidak mendapatkan hasil­-hasil yang Anda inginkan, belajar­lah dari pengalaman tersebut sehingga Anda mempunyai acuan tentang bagai­mana caranya mengambil keputusan­keputusan yang lebih baik di masa depan.